BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau BKSDA Provinsi Kalimantan Tengah menggelar kegiatan pemutakhiran data populasi Orangutan di luar Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sebagai tindak lanjut Regional Meeting Konservasi Orangutan Kalimantan Tengah yang dilaksanakan pada 23–24 Juni 2025 lalu.
Kegiatan ini berlangsung pada Selasa, 27 Januari 2026, di Aquarius Boutique Hotel, Palangka Raya. Kepala BKSDA Kalimantan Tengah, Andi Muhammad Kadhafi, mengatakan pemutakhiran data ini menjadi langkah strategis untuk memperoleh gambaran terbaru mengenai sebaran dan perjumpaan orangutan di berbagai tipe ekosistem, khususnya di luar kawasan konservasi formal. Data tersebut akan menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan dan strategi pengelolaan orangutan yang lebih efektif dan berbasis ilmiah.
“Pemutakhiran ini sangat penting untuk memetakan distribusi spasial orangutan, baik yang berada di dalam KSA dan KPA maupun yang berada di wilayah PBPH, kebun sawit, dan kawasan hutan lainnya. Tanpa data yang mutakhir dan akurat, upaya konservasi tidak akan berjalan optimal,” ujar Andi.
Ia menjelaskan, data yang dihimpun mencakup titik sebaran serta lokasi perjumpaan orangutan pada setiap tipe ekosistem. Informasi tersebut diharapkan dapat menggambarkan kondisi populasi orangutan secara lebih komprehensif, sekaligus mengidentifikasi wilayah-wilayah yang memerlukan perhatian khusus dalam pengelolaan dan perlindungan satwa dilindungi tersebut.
Dalam kegiatan tersebut, BKSDA Kalteng mengundang para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif, termasuk perusahaan-perusahaan yang berada di bawah naungan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Kalimantan Tengah. Keterlibatan sektor swasta dinilai krusial mengingat sebagian habitat orangutan berada di dalam atau berbatasan langsung dengan areal konsesi dan perkebunan.
“Kami meminta setiap instansi atau perusahaan yang diundang dapat menugaskan satu orang tenaga teknis yang membidangi konservasi orangutan, lingkungan, atau GIS. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci agar data yang terkumpul benar-benar merepresentasikan kondisi di lapangan,” tegas Andi.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 16.00 WIB ini dipandang sebagai forum strategis untuk menyatukan persepsi dan memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya dalam menjaga kelestarian orangutan Kalimantan Tengah. Hasil pemutakhiran data ini diharapkan dapat menjadi pijakan kuat bagi langkah-langkah konservasi berkelanjutan di masa mendatang. (TESTI PRISCILLA/H)









