MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Rendahnya curah hujan di wilayah hulu Sungai Barito, khususnya Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara, Kalimantan Tengah, menyebabkan debit air sungai terus menurun. Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas transportasi sungai, terutama kapal dan tongkang bertonase besar.

Kelompok Tenaga Teknis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Barito Utara, Sunardi, menjelaskan bahwa sejak awal Januari 2026 intensitas hujan di dua kabupaten tersebut berada di bawah normal, meski secara kalender masih termasuk musim hujan.

“Curah hujan di Murung Raya hingga 20 Januari 2026 tercatat 184 milimeter dengan enam hari hujan. Angka ini jauh di bawah kondisi normal yang berkisar antara 218 hingga 381 milimeter,” ujar Sunardi sebagaimana dikutip pada Selasa, 27 Januari 2026.

Sementara itu, wilayah Barito Utara juga mengalami kondisi serupa. Hingga 25 Januari 2026, total curah hujan tercatat sekitar 132,7 milimeter dengan 13 hari hujan. Padahal, rata-rata curah hujan normal pada periode yang sama biasanya mencapai 335 hingga 347 milimeter.

Menurut Sunardi, meski pada Februari mendatang wilayah Murung Raya dan Barito Utara masih diprakirakan berada dalam musim hujan dengan kategori menengah, dampak dari rendahnya curah hujan saat ini sudah terasa nyata, terutama pada surutnya Sungai Barito dan anak-anak sungainya.

“Potensi kebakaran hutan dan lahan diperkirakan masih kecil, namun tetap perlu diwaspadai. Saat ini masyarakat belum mulai membuka lahan pertanian,” jelasnya. Ia menambahkan, musim kemarau di kawasan tersebut diperkirakan terjadi pada Juli, seiring aktivitas pembukaan ladang yang biasanya berlangsung antara Juni hingga Agustus.

Surutnya Sungai Barito juga dibenarkan Kepala Dinas Perhubungan Barito Utara, Mihrab Buanapati, melalui petugas pelabuhan UPTD Dermaga Muara Teweh, Syamsu Rizal. Ia menyebutkan, penurunan debit air sudah terjadi lebih dari sepekan terakhir.

“Kapal dan tongkang bertonase besar saat ini tidak dapat berlayar. Tinggi muka air di STA Muara Teweh pada Minggu (25/1) siang tercatat 2,00 sentimeter, turun dari 2,10 sentimeter pada pagi harinya. Kondisi ini tidak aman bagi pelayaran kapal besar,” katanya.

Akibatnya, sejumlah tongkang bermuatan maupun kosong terpaksa bersandar dan bahkan kandas di kawasan Teluk Siwak, Kecamatan Montallat. Beberapa kapal tunda juga menghentikan aktivitas pelayaran, baik ke arah hulu maupun hilir Sungai Barito.

“Debit air sungai cepat turun, sehingga kapal tidak bisa melanjutkan perjalanan,” tambah Syamsu Rizal.

Tak hanya angkutan barang, layanan transportasi penumpang juga terdampak. Kapal bis air yang biasanya melayani rute Muara Teweh–Banjarmasin setiap Kamis terpaksa menghentikan operasional sementara.

Meski demikian, transportasi menggunakan kapal kecil seperti speedboat masih dapat beroperasi normal untuk melayani rute Muara Teweh–Buntok serta sejumlah desa di sepanjang aliran Sungai Barito.