BORNEONEWS, Sampit – Kepala Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Muksin, mengungkapkan dugaan penyimpangan distribusi pupuk subsidi yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan merugikan petani di empat desa penerima.
Empat desa yang selama ini tercatat sebagai penerima pupuk subsidi tersebut yakni Desa Lampuyang, Kuin Permai, Regei Lestari, dan Parebok.
“Selama ini sesuai laporan petani, termasuk laporan dari Kades Regei Lestari, penyaluran pupuk subsidi memang tidak sesuai aturan. Awalnya kios berjalan baik, tapi seiring waktu prosesnya berubah,” kata Muksin, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, petani yang seharusnya menerima pupuk subsidi sesuai alokasi justru mengalami pemotongan. Bahkan, kios kerap beralasan nama petani dihapus dari penerima pupuk subsidi jika tidak segera mengambil pupuk.
“Katanya kalau tidak ambil, nama hangus. Tapi kenyataannya nama tetap ada, hanya pupuknya dialihkan ke pihak lain dengan alasan kuota tidak cukup,” ujarnya.
Muksin menyebutkan, kondisi di lapangan sering kali tidak masuk akal. Pupuk datang pagi hari tetapi petani yang hendak mengambil justru mendapati stok sudah habis di siang hari. Diduga pupuk tersebut justru dijual kepada petani sawit yang tidak sesuai dengan ketentuan penerima pupuk subsidi.
“Pupuk subsidi itu dijual ke petani sawit, jelas tidak sesuai aturan. Padahal kami sudah beberapa kali memberi peringatan,” imbuhnya.
Menurut Muksin, permasalahan ini sudah terjadi sejak dirinya menjabat sebagai kepala desa pada periode sebelumnya tahun 2014, hingga kembali menjabat sejak tahun 2020.
Muksin mengungkapkan, terdapat tiga jenis pupuk subsidi yang seharusnya disalurkan, yakni Urea, NPK, dan KCl. Dalam satu musim tanam, petani berhak menerima sekitar 1 ton pupuk per hektare.
“Di Desa Lampuyang saja, sudah dua sampai tiga musim petani seharusnya menerima sekitar 3 ton, tapi kenyataannya tidak sampai 1 ton. Paling hanya lima sak per musim,” katanya.
Ia menduga permasalahan utama berada pada kios penyalur pupuk subsidi. Bahkan, terdapat laporan pupuk diangkut pada malam hari, sebagaimana juga dilaporkan Kades Regei Lestari.
Sebagai langkah awal, pihaknya bersama tiga desa lainnya berencana menggelar pertemuan untuk mengumpulkan data dan bukti sebelum melaporkan persoalan tersebut ke pihak terkait.
“Empat desa akan duduk bersama, mengumpulkan data masing-masing. Kalau di Lampuyang itu ada sekitar 8.000 hektare lahan dengan 73 kelompok tani,” pungkas Muksin. (DEWI PATMALASARI/y)









