BORNEONEWS, Palangka Raya – Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin mengungkapkan bahwa meskipun jumlah sampah yang belum terkelola di kota ini saat ini hanya berkisar 1,9 persen, tantangan geografis sebagai salah satu kota terluas di Indonesia memerlukan pendekatan dan penanganan khusus dalam pengelolaan sampah.
Angka 1,9 persen sampah yang belum terkelola menunjukkan bahwa upaya pengelolaan sampah di Palangka Raya telah cukup baik. Namun demikian, kondisi geografis yang luas menjadi faktor utama yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kualitas layanan pengelolaan sampah ke depannya.
“Mengingat status kita sebagai kota terluas, meskipun kepadatan penduduk tidak merata, pemerintah wajib memberikan pelayanan hingga ke seluruh pelosok,” ujar Fairid Naparin, Rabu, 28 Januari 2026.
Hal ini katanya, menjadi kewajiban pemerintah kota untuk memastikan bahwa tidak ada wilayah yang terlewatkan dalam mendapatkan layanan pengelolaan sampah yang layak.
“Hal ini tentu memerlukan sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai serta teknologi yang tepat,” tambahnya.
Sarana seperti armada pengangkut sampah yang cukup dan berkapasitas sesuai kebutuhan, serta prasarana seperti tempat pembuangan sementara dan akhir yang memenuhi standar menjadi kebutuhan utama.
Kerja sama yang telah menjalin dengan National Institute of Green Technology (NIGT) Korea Selatan dalam pengelolaan sampah perkotaan terpadu juga diharapkannya dapat memberikan solusi teknologi yang sesuai dengan kondisi geografis Palangka Raya.
Teknologi yang tepat akan membantu meningkatkan efisiensi dan efektivitas penanganan sampah di seluruh wilayah kota.
Fairid Naparin berharap bahwa dengan dukungan sarpras yang memadai dan penerapan teknologi yang sesuai, pengelolaan sampah di Palangka Raya dapat menjadi lebih optimal.
“Kita berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan pengelolaan sampah agar kota kita tetap bersih, sehat, dan layak huni bagi seluruh masyarakat,” pungkasnya. (MARINI/j)









