SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong seluruh kepala desa (kades) agar lebih proaktif mendata calon peserta didik Sekolah Rakyat, khususnya anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berpotensi putus sekolah atau belum pernah mengenyam pendidikan formal.

“Saya tekankan pentingnya peran kepala desa dalam mendata calon murid Sekolah Rakyat. Paling tidak ada tanggung jawab moril melihat warga kurang mampu di desa masing-masing,” kata Kepala Dinsos Kotim Hawianan, Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menjelaskan, sasaran utama Sekolah Rakyat adalah anak-anak dari keluarga miskin yang masuk dalam desil 1 dan 2 berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Terutama bagi anak yang putus sekolah, tidak sekolah, atau tidak pernah sekolah karena tidak mampu.

"Nanti kelayakannya akan kami cek langsung ke lapangan,” imbuhnya.

Hawianan mengungkapkan, pada tahun ajaran pertama Sekolah Rakyat, masih ditemukan sejumlah kecamatan yang tidak mengirimkan satu pun calon siswa. Menurutnya, hal itu kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan waktu sosialisasi yang sangat singkat.

“Kalau tidak salah, ada sekitar empat kecamatan yang tidak mengirim satu pun murid. Mungkin karena sosialisasi kita saat itu kurang maksimal dan waktunya sangat mepet,” imbuhnya.

Selain itu, Dinsos Kotim juga menghadapi keterbatasan jumlah pendamping sosial. Dari awalnya 60 pendamping untuk 17 kecamatan, kini tersisa 39 orang akibat sebagian di antaranya diangkat menjadi PPPK dan berpindah tugas.

Terkait penerimaan peserta didik tahun ajaran baru nanti akan dibuka pada Juni–Juli, bersamaan dengan jadwal penerimaan sekolah reguler. Jika pembangunan sekolah permanen telah rampung, maka Sekolah Rakyat akan membuka jenjang SD, SMP, hingga SMA, sesuai arahan Presiden.

“Satu Sekolah Rakyat diharapkan bisa menampung sekitar 1.000 siswa untuk semua jenjang. Artinya kurang lebih 300 siswa per jenjang,” ujarnya.

Ia menambahkan, meskipun tidak menutup kemungkinan menerima siswa dari kabupaten tetangga, mengingat di Kalimantan Tengah baru terdapat empat Sekolah Rakyat, namun prioritas utama tetap diberikan kepada masyarakat miskin di Kotim.

“Yang utama tetap masyarakat kurang mampu di daerah ini. Itu yang menjadi prioritas kita,” pungkas Hawianan.

Sebagai informasi, Sekolah Rakyat di Kotim telah berjalan sejak September 2025 untuk jenjang SD dan SMA yang sementara ini dipusatkan di Islamic Center Sampit sambil menunggu bangunan permanen selesai dibangun di kompleks Wengga Metropolitan. (DEWI PATMALASARI/y)