BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dari sejumlah bundaran yang ada di Pangkalan Bun, Bundaran Tugu Tudung Saji merupakan bundaran yang paling kental nuansa lokalnya.
Disampaikan oleh Yudhi Hudaya yang saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kotawaringin Barat.
Bukan karena bentuknya yang paling besar atau megah, melainkan karena simbol yang diangkat benar-benar lahir dari budaya dan kehidupan masyarakat pribumi Kotawaringin Barat.
Tudung saji adalah benda sederhana yang sejak lama akrab dengan kehidupan rumah tangga masyarakat.
Fungsinya jelas: melindungi makanan, menjaga kebersihan, dan memastikan kecukupan bagi keluarga. Dalam makna simbolik, tudung saji mencerminkan nilai perlindungan, kepedulian, dan kebersamaan nilai-nilai yang hidup dalam tradisi lokal dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal inilah yang membedakan Bundaran Tudung Saji dengan bundaran lainnya. Banyak simbol ruang kota yang bersifat umum dan bisa dijumpai di berbagai daerah, tetapi tudung saji adalah simbol yang tumbuh dari keseharian masyarakat setempat.
Ia tidak dipinjam dari luar, tidak bersifat universal, melainkan merepresentasikan identitas lokal yang autentik.
Karena itu, Bundaran Tudung Saji terasa dekat dengan masyarakat. Ia tidak berdiri sebagai monumen yang berjarak, tetapi sebagai penanda jati diri yang mudah dipahami dan diterima oleh warga.
Setiap orang yang melintas tidak hanya melihat tugu, tetapi juga membaca pesan tentang kebersamaan dan perlindungan yang menjadi bagian dari budaya lokal.
Dalam konteks pembangunan kota, simbol lokal seperti Bundaran Tudung Saji memiliki peran penting. Di tengah dinamika modernisasi, kota tetap perlu menjaga akarnya.
Pembangunan yang berkelanjutan bukanlah yang menghilangkan identitas, melainkan yang mampu mengangkat nilai lokal secara bermartabat dan relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Oleh karena itu, Bundaran Tudung Saji layak diposisikan sebagai ikon budaya Pangkalan Bun dan Kotawaringin Barat, sebuah ruang publik yang tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menyimpan makna dan karakter daerah.
Inilah yang menjadikan Bundaran Tudung Saji sebagai bundaran dengan nuansa lokal paling autentik di Pangkalan Bun.
Penulis: Yudhi Hudaya Kepala Disnakertrans Kobar









