SAMP –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor secara tegas mendukung  penyelenggaraan Festival Mangaruhi yang digelar oleh dinas perikanan.

Festival ini tidak hanya berperan sebagai pelestarian tradisi masyarakat Dayak, tapi juga sebagai media kampanye menangkap ikan dengan cara yang ramah lingkungan.

“Mangaruhi itu aslinya di sungai, tapi tidak apa-apa ini digelar di kolam. Ini menjadi contoh kearifan lokal kita masyarakat Dayak dalam menangkap ikan secara ramah lingkungan karena hanya menggunakan tangan kosong,” ujar Halikinnor, Jumat, 30 Januari 2026.

Festival Mangaruhi digelar oleh Dinas Perikanan Kotim Kamis (29 Januari 2026). Pihaknya juga melaksanakan lomba Mangaruhi yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-73 Kabupaten Kotawaringin Timur. 

“Kegiatan ini membawa banyak dampak positif, salah satunya meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong serta menjaga kelestarian budaya lokal dalam eksploitasi sumber daya perairan,” tambahnya.

Menurutnya, festival tersebut mengajarkan nilai penting mengenai kearifan hidup dengan alam yang ada di Kotim khususnya. 

“Kegiatan ini memberikan pelajaran kepada kita semua tentang cara bersahabat dengan alam, menjaga kebersamaan antar sesama, dan cara menjaga kelestarian alam agar tetap lestari berkelanjutan,” tegasnya.

Kepala Dinas Perikanan Kotawaringin Timur, Ahmad Sarwo Oboi, menyatakan bahwa Festival Mangaruhi adalah wujud nyata pelestarian budaya lokal sekaligus ajang silaturahmi yang melibatkan Forkopimda dan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ia mengungkapkan festival dan lomba mengaruhi itu sengaja rutin digelar lantaran pihaknya ingin mengedukasi masyarakat terkait cara penangkapan yang benar dan tidak merusak alam. 

"Lomba ini intinya adalah supaya, pertama adalah kita melestarikan tradisi adat budaya kita yaitu namanya mangaruhi. Dimana merupakan satu kegiatan cara menangkap ikan dengan tangan," terangnya. 

Dia menyampaikan artinya  menangkap ikan itu jangan menggunakan alat yang berbahaya mulai dari bahan dan alat yang dapat merusak lingkungan seperti racun dan penyetrum. 

"Itu bisa merusak lingkungan. Jadi kegiatan ini juga sebagai bentuk sosialisasi kita. Melalui festival itu juah, kami ingin menegaskan bahwa pembangunan Kotin tidak hanya berorientasi pada fisik dan ekonomi, tetapi juga pada budaya, identitas, dan jati diri daerah," imbuhnya. 

Festival Mangaruhi menjadi momentum penting untuk melestarikan kearifan lokal sekaligus menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem secara berkelanjutan. (DEVIANA/R)