BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pengapalan minyak sawit dari Indonesia mengalami lonjakan terbesar sejak Oktober 2014 untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Ekspor minyak sawit dan minyak inti sawit (kernel) meningkat 39% menjadi 2,41 juta ton pada Oktober dari 1,73 juta ton pada September, menurut data dari Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indoneasia (GAPKI) yang dikutip di Pangkalan Bun, Rabu (14/12).

Ini merupakan ekspor tertinggi sejak Desember 2016 dan dibandingkan dengan estimasi median sebesar 2,14 juta ton yang dilakukan Bloomberg bulan lalu.

Komoditas yang banyak dipakai untuk pembuatan biskuit hingga biodiesel ini telah melambung 23% tahun ini setelah sempat mengalami tekanan akibat dampak El Nino, yang membuat produksi sawit Indonesia dan Malaysia ikut terpengaruh.

Lambatnya pemulihan produksi sawit di Malaysia telah mendorong analis kawakan Dorab Mistry untuk menaikkan proyeksi harga minyak sawit pada kuartal pertama tahun depan di angka RM3.300 per ton.

Para pelaku bisnis bahkan telah memborong pembelian karena diperkirakan harga akan meningkat seiring dengan tingginya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.

Menurut GAPKI, total ekspor produk sawit yang mencakup biodiesel, meningkat 34% menjadi 2,54 juta ton.

Produksi pada Oktober naik menjadi 3,55 juta ton dari 3,33 juta ton pada bulan sebelumnya. Untuk stok meningkat menjadi 2,18 juta ton dari 2,17 juta ton, sedangkan konsumsi domestik naik menjadi satu juta ton dari 966.000 ton pada September 2016. (NEDELYA RAMADHANI/m)