BORNEONEWS, Banjarmasin - Bank Indonesia menilai Kalimantan Selatan memiliki peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah melalui transformasi struktural yang berbasis produktivitas dan peningkatan nilai tambah.
Transformasi tersebut dinilai penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan di tengah dominasi sektor berbasis sumber daya alam yang masih kuat di daerah tersebut.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Selatan Fadjar Majardi di Banjarmasin, Kamis mengatakan, perekonomian Kalimantan Selatan memiliki keunggulan komparatif pada sektor pertambangan dan pertanian yang perlu ditingkatkan menjadi keunggulan kompetitif.
Dia menyebutkan, sektor pertambangan memberikan kontribusi sebesar 29,47 persen terhadap perekonomian daerah, sementara sektor pertanian berkontribusi sebesar 11,55 persen.
Menurutnya, kontribusi industri pengolahan yang masih sebesar 10,9 persen menunjukkan masih terbuka ruang penguatan struktur ekonomi daerah guna mendorong investasi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.
Fadjar menjelaskan, Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar ketiga dunia pada 2023, dengan Kalimantan sebagai wilayah dengan cadangan dan sumber daya terbesar yang mencapai 62,73 persen dari total nasional, termasuk Kalimantan Selatan.
Berdasarkan hasil simulasi, umur cadangan batu bara di Kalimantan diperkirakan mencapai sekitar 90 tahun, sehingga berpotensi menopang pengembangan hilirisasi dalam jangka panjang.
Sejalan dengan kondisi tersebut, hilirisasi batu bara dinilai menjadi strategi penting dalam meningkatkan nilai tambah perekonomian daerah melalui penguatan sektor industri pengolahan.
Melalui hilirisasi, batu bara tidak hanya dimanfaatkan sebagai komoditas primer, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi yang memperkuat struktur industri daerah.
Pemerintah pada awal 2026 juga berencana melakukan peletakan batu pertama proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di tiga lokasi di Kalimantan, termasuk Kalimantan Selatan.
Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan sebesar 8,1 persen, diperlukan strategi baru agar investasi tumbuh lebih efisien dan produktif dengan orientasi peningkatan kualitas dan nilai tambah.
Penguatan hilirisasi industri dinilai mampu menurunkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), meningkatkan efisiensi investasi, serta memperkuat basis industri pengolahan daerah.
Selain itu, reformasi struktural melalui penguatan tata kelola, kelembagaan, kebijakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan kawasan industri dan infrastruktur pertanian menjadi kunci transformasi ekonomi Kalimantan Selatan ke depan.
ANTARA









