BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Malaysia mendesak sejumlah perusahaan sawit negeri jiran itu untuk menguasai hilir agar dapat menjadi penentu harga. Caranya dengan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan invovasi.
Seperti dilansir The Star, Rabu (14/12/2016), Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan sektor komoditas masih jauh dari kondisi sebagai sunset industry.
“Saya yakin sukses negeri ini di masa depan adalah tergantung pada sektor komoditas yang modern, kompetitif dan berkesinambungan,” kata Mah di sela memberikan paparan dalam acara MPOB & Oil Palm Industry Night Of Excellence 2016, di Kuala Lumpur.
Mah mengatakan selama 100 tahun, Malaysia telah menjadi price taker atau pengambil harga dan bukan penentu harga. Untuk itu, saatnya negeri tersebut tampil sebagai penentu harga (price maker) sawit dunia.
“Price taker itu menguasai hulu sementara price maker menguasai hilir. Untuk menjadi price maker, harus menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan melakukan inovasi," ucapnya.
Dengan menjadi penentu harga, maka berbagai perusahaan sawit Malaysia akan lebih banyak meraup untung, lebih banyak produk, lebih banyak permintaan dan memiliki produk lebih berkualitas.
Untuk mendorong industri kelapa sawit bergerak menuju sektor hilir dan memiliki nilai tambah pada produk sawit beserta turunannya, pemerintah Malaysia mencanangkan program bernama '11th Malaysia Plan' (11MP), dengan mengalokasikan dana hibah sebesar RM280 juta (Rp837 miliar) bagi para pelaku industri.
Selain membidik menjadi pemain besar di industri sawit, pemerintah Malaysia juga memberikan pembinaan kepada usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor sawit, dengan dana hibah sebesar RM50 juta (sekitar Rp150 miliar). (NEDELYA RAMADHANI/m)








