KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas telah menggelar edukasi kesehatan melalui podcast di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) 98,1 FM. Dengan narasumber Kristin Natalia, S.Tr.Gz selaku Nutrisionis Penyelia Instalasi Gizi RSUD Kuala Kapuas, edukasi mengangkat tema, “Edukasi Gizi Seimbang untuk Tumbuh Cerdas, Aktif, dan Sehat.”

Dalam pemaparannya, Kristin menjelaskan bahwa perbedaan tingkat konsentrasi, energi, dan emosi pada anak sering kali bukan hanya dipengaruhi faktor bakat, melainkan kualitas asupan gizi harian. 

“Banyak anak terlihat kenyang, tetapi sebenarnya tubuh dan otaknya kekurangan zat gizi mikro. Inilah yang disebut malnutrisi terselubung, terutama akibat konsumsi makanan instan dan tinggi gula,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kualitas nutrisi sangat berkaitan langsung dengan ketajaman kognitif, daya tahan tubuh, serta stabilitas emosi anak. Kekurangan zat besi dan lemak sehat dapat mengganggu proses berpikir, sementara kurang protein dan mineral membuat anak mudah sakit dan berisiko mengalami stunting. 

“Bahkan kekurangan gizi tertentu dapat memicu anak menjadi rewel, sulit fokus, dan emosinya tidak stabil,” tambah Kristin.

Menurutnya, gizi seimbang bukan berarti makan dalam jumlah banyak, melainkan makan dengan komposisi yang tepat. 

“Gizi seimbang bukan soal melarang makanan favorit anak, tapi bagaimana menyeimbangkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Investasi terbaik untuk masa depan anak bukan harta, melainkan tubuh yang sehat dan otak yang cemerlang,” ujarnya.

Kristin juga memaparkan bahwa anak usia sekolah berada pada fase pertumbuhan cepat, sehingga memerlukan asupan gizi optimal agar tumbuh sehat, kuat, aktif, dan siap berprestasi. Gizi seimbang sendiri didefinisikan sebagai susunan makanan harian yang jenis dan jumlah gizinya sesuai kebutuhan tubuh, dengan tetap memperhatikan keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih, serta pemantauan berat badan normal.

Lebih lanjut dijelaskan, prinsip gizi seimbang memiliki empat pilar utama, yaitu mengonsumsi makanan beragam, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik secara rutin, serta mempertahankan dan memantau berat badan normal. Pola makan yang buruk, seperti tinggi gula, lemak trans, dan rendah serat, dapat berdampak pada gangguan kognitif, obesitas anak, resistensi insulin, hingga masalah psikologis dan perilaku.

Dalam kesempatan tersebut, Kristin juga mengenalkan program pemerintah “Isi Piringku” sebagai panduan praktis gizi seimbang. Konsep ini terdiri dari sepertiga piring berisi sayur, sepertiga makanan pokok karbohidrat kompleks, serta masing-masing seperenam piring untuk lauk pauk protein dan buah. 

“Melalui Isi Piringku, masyarakat diajak membatasi gula dan tepung olahan, serta memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan protein berkualitas,” jelasnya.

Menutup sesi edukasi, narasumber menekankan pentingnya peran bersama antara anak, guru, dan orang tua dalam menerapkan gizi seimbang. Anak dibiasakan sarapan, minum air putih, dan membawa bekal sehat, guru menjadi teladan serta pengawas lingkungan sekolah; sementara orang tua diharapkan menyediakan makanan bergizi dan memantau tumbuh kembang anak. Edukasi ini diharapkan dapat membentuk generasi Kapuas yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (SABRIANOOR/H)