PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dr. Ari Yunus Hendrawan, praktisi hukum sekaligus tokoh muda Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah, mengingatkan pentingnya menjaga makna sejati Handep Hapakat agar tidak bergeser menjadi praktik transaksional yang berorientasi pada uang semata.

Dalam keterangannya kepada Borneonews, Minggu, 1 Februari 2026, Ari menegaskan bahwa Handep Hapakat merupakan nilai luhur yang lahir dari kehidupan masyarakat Dayak Ngaju dan berakar kuat pada semangat gotong royong serta kesepakatan bersama.

“Secara bahasa, handep berarti gotong royong, sedangkan hapakat berarti sepakat. Konsep ini adalah kerja sama atas dasar kesepakatan bersama yang tumbuh secara alami dalam kehidupan masyarakat Dayak Ngaju,” jelasnya.

Menurut Ari, Handep Hapakat tidak hanya sebatas kerja bersama, tetapi juga mengandung nilai moral untuk saling membantu dalam berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan pertanian, urusan rumah tangga, hingga pelaksanaan upacara adat.

Ia menambahkan, tujuan luhur Handep Hapakat adalah menjaga nilai kekeluargaan, komunitas, dan keberlanjutan suku agar filosofi Huma Betang—rumah adat Dayak yang menjadi pusat kehidupan bersama—tetap kokoh.

“Nilai ini melahirkan kesetaraan, keseimbangan, keteladanan, serta dorongan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga,” ujarnya.

Ari mencontohkan praktik Handep Hapakat dalam bidang pendidikan, di mana kakak dengan tulus menyisihkan gajinya untuk membiayai sekolah adik, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.

“Tujuan utamanya adalah kesuksesan adik, bukan balas jasa,” katanya.

Lebih lanjut, Ari menjelaskan bahwa Handep Hapakat melambangkan semangat persatuan, kekeluargaan, dan solidaritas. Bentuk nyatanya terlihat dari tindakan saling membantu yang lahir dari rasa kebersamaan di tengah komunitas.

“Hubungan antaranggota masyarakat tidak dibangun atas pertukaran materi, tetapi atas kepedulian dan rasa memiliki,” bebernya.

Namun demikian, Ari menyoroti fenomena yang belakangan marak di media sosial, di mana Handep Hapakat kerap diwujudkan dalam bentuk penyerahan buket uang atau segepok uang, khususnya dalam acara pernikahan.

Menurutnya, praktik tersebut cenderung bersifat transaksional, terlebih jika tidak didasari kesepakatan yang jelas antara kedua belah pihak keluarga.

“Handep Hapakat tidak selalu soal uang. Kontribusi bisa berupa tenaga, waktu, atau membantu pekerjaan fisik, seperti di ladang atau dalam penyelenggaraan acara adat,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa esensi Handep Hapakat adalah saling membantu, bukan sekadar pertukaran nilai materi.

Ari juga mengingatkan bahwa masyarakat Dayak menjunjung tinggi filosofi Huma Betang. Pada masa lalu, keluarga yang mampu akan membantu keluarga yang kekurangan. Jika ada yang kehabisan beras, mereka bisa melakukan barter atau yang dikenal dengan istilah hatalisih, karena tidak tega melihat saudara sendiri kelaparan.

“Orang Dayak tidak tega melihat saudaranya kelaparan. Pasti akan dibantu,” tuturnya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat, terutama mereka yang hanya mengikuti tren tanpa memahami makna budaya, agar tidak salah mengartikan Handep Hapakat.

“Penting memahami filosofi di balik budaya ini agar tidak menyimpang dari tujuan awalnya,” ujarnya.

Ari menegaskan, kesadaran terhadap nilai-nilai asli Handep Hapakat menjadi kunci untuk menjaga keutuhan semangat gotong royong di tengah perkembangan zaman.

Dengan peringatan tersebut, ia berharap Handep Hapakat tetap menjadi simbol kebersamaan dan solidaritas masyarakat Dayak Ngaju.

“Budaya yang telah hidup ratusan tahun ini harus dilestarikan dengan makna yang benar, agar tidak larut dalam arus tren yang berfokus pada nilai materi,” pungkasnya. (MARINI/j)