BORNEONEWS, Katingan – Kebakaran yang melanda di Desa Tumbang Mangketai, Kecamatan Katingan Hulu, Kabupaten Katingan, pada Sabtu, 31 Januari 2026, mengakibatkan kerugian materiel total sekitar Rp430 juta.
Peristiwa tersebut menghanguskan tiga bangunan kayu berusia sekitar 30 tahun. Rinciannya, rumah milik Pangkal mengalami kerugian sekitar Rp80 juta, rumah milik Aji Rp200 juta, serta gedung walet lima tingkat milik Aji senilai Rp150 juta. Seluruh bangunan dilaporkan hancur total.
Kapolsek Katingan Hulu, IPTU Yubambang Kusnady, S.H., menjelaskan bahwa berdasarkan keterangan saksi, sumber api diduga berasal dari sisa tumpukan kayu bakar yang digunakan untuk memasak di dapur rumah Pangkal.
“Api pertama kali muncul sekitar pukul 10.30 WIB di dapur rumah Pangkal. Saat itu, kayu bakar digunakan oleh Rambai, istri Pangkal, untuk memasak nasi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu, 1 Februari 2026.
Ia menambahkan, api dengan cepat menyebar ke bangunan lain meskipun warga telah berupaya memadamkannya menggunakan mesin pompa air seadanya.
Sebanyak tiga saksi, yakni Pini, Daud, dan Pandang, telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Ketiganya menyaksikan awal mula munculnya api serta proses pemadaman yang dilakukan warga sebelum petugas tiba di lokasi.
Kepolisian juga telah mendata identitas pemilik bangunan yang terdampak, yakni Pangkal (petani, 59 tahun) dan Aji (buruh tani, 43 tahun), serta mengumpulkan data pribadi para saksi yang berdomisili di wilayah setempat. Data tersebut menjadi dasar dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
“Keterbatasan akses jalur air membuat tim Polsek Katingan Hulu baru tiba di tempat kejadian perkara sekitar pukul 14.30 WIB, atau sekitar 30 menit setelah menerima laporan,” jelas Yubambang.
Meski menghadapi kendala akses, petugas tetap melakukan langkah-langkah penanganan awal, seperti memasang garis polisi (police line), mengamankan barang bukti, serta mendokumentasikan kondisi lokasi kebakaran.
Dugaan kebakaran yang bersumber dari aktivitas memasak kini menjadi fokus penyelidikan. Kepolisian juga akan mengevaluasi faktor lain, termasuk kondisi bangunan kayu yang sudah tua dan mudah terbakar.
“Kami mengimbau masyarakat agar selalu berhati-hati dalam menggunakan api, khususnya di dapur. Pastikan sisa kayu bakar atau bahan mudah terbakar benar-benar padam setelah digunakan, dan hindari menumpuk bahan tersebut di sekitar area memasak,” imbaunya. (MARINI/j)









