SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, Halikinnor menginstruksikan seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar bersiaga dan siap mendukung upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Kepada seluruh kepala perangkat daerah saya minta agar tetap siaga sewaktu-waktu jika diperlukan dukungannya dalam pengendalian karhutla,” kata Halikinnor di Sampit, Minggu, 1 Februari 2026.

Instruksi tersebut disampaikan menyusul munculnya sejumlah titik panas (hotspot) serta kejadian karhutla di beberapa wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemerintah Kabupaten Kotim juga telah menetapkan status siaga bencana karhutla selama 30 hari, terhitung mulai 23 Januari hingga 21 Februari 2026.

Halikinnor menegaskan pentingnya memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Sehubungan dengan kondisi Kotim saat ini, di mana sudah muncul beberapa titik hotspot karhutla, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan sejak dini,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa langkah pencegahan harus dilakukan sedini mungkin agar dampak karhutla tidak meluas. Halikinnor mengingatkan agar peristiwa kabut asap pekat yang pernah melumpuhkan aktivitas masyarakat di masa lalu tidak kembali terulang.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mencatat peningkatan jumlah hotspot dan kejadian karhutla seiring dengan peralihan musim hujan ke musim kemarau yang ditandai dengan menurunnya intensitas curah hujan.

“Kondisi ini tidak hanya meningkatkan potensi kebakaran, tetapi juga berdampak pada ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah Kotim,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam.

Dalam sepekan terakhir, BPBD Kotim menerima permohonan bantuan pasokan air bersih dari dua desa, yakni Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, serta Desa Regei Lestari, Kecamatan Teluk Sampit.

BPBD Kotim telah menyalurkan bantuan air bersih masing-masing sebanyak 22.000 liter ke dua desa tersebut.

Multazam menambahkan, pemerintah daerah sebenarnya telah memperluas jaringan instalasi air bersih melalui Perumdam Tirta Mentaya hingga ke Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit. Namun, tidak seluruh warga berlangganan layanan air bersih tersebut, sehingga saat musim kemarau masih mengalami kesulitan air bersih.