PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif Gapki Cabang Kalteng, Rawing Rambang, menegaskan bahwa penilaian terhadap kelapa sawit harus dilakukan secara adil dengan membandingkan minyak nabati lainnya. Menurutnya, sawit tidak bisa dinilai secara sepihak hanya dari isu lingkungan, melainkan harus disejajarkan dengan minyak nabati lain yang juga mendominasi pasar dunia.

Ia menjelaskan, terdapat empat jenis minyak nabati utama yang memenuhi 90 persen kebutuhan produksi dan konsumsi global, yakni minyak sawit, kedelai, rapeseed, dan bunga matahari. Keempat komoditas ini menjadi tulang punggung industri pangan dan energi dunia.  

“Data tahun 2024 menunjukkan minyak sawit menyumbang pangsa terbesar, yakni 40 persen. Disusul kedelai 28 persen, rapeseed 15 persen, dan bunga matahari 10 persen,” ujar Rawing Rambang kepada Borneonews pada Senin, 2 Februari 2026.

Angka ini, katanya, menegaskan posisi sawit sebagai minyak nabati paling dominan di pasar internasional.  

Pertumbuhan revolusioner produksi sawit sejak tahun 2000-an berhasil menggeser dominasi minyak kedelai yang sebelumnya bertahan lebih dari satu abad. Sawit kini menjadi primadona baru dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.  

Rawing menilai capaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa sawit memiliki daya saing tinggi.

“Prestasi ini menunjukkan peran strategis sawit dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia,” tegas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini.

Dengan kontribusi besar tersebut, ia berharap masyarakat internasional dapat menilai sawit secara objektif, bukan hanya dari isu-isu negatif yang sering dilontarkan oleh kompetitor. (TESTI PRISCILLA/H)