BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengamat Ekonomi Bidang Perkebuna Provinsi Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengungkapkan bahwa minyak sawit terus menghadapi kampanye hitam dari negara kompetitor minyak nabati non-sawit.
Menurutnya, tudingan terhadap sawit bukanlah hal baru, melainkan sudah berlangsung sejak beberapa dekade lalu.
Pada dekade 1980-an, American Soybean Association (ASA) melancarkan isu kesehatan dengan tudingan sawit mengandung kolesterol. Kampanye tersebut berhasil memengaruhi opini publik internasional dan sempat menekan pasar sawit.
“Kampanye itu akhirnya berhasil dipatahkan oleh penelitian ilmiah dari negara produsen sawit. Para peneliti membuktikan bahwa tudingan tersebut tidak berdasar,” jelas Rawing Rambang kepada Borneonews pada Senin, 2 Februari 2026.
Fakta ilmiah menjadi senjata utama melawan propaganda negatif tersebut.
Setelah isu kesehatan runtuh, NGO dan LSM transnasional kembali menyerang sawit dengan isu lingkungan. Sawit dituding sebagai penyebab utama kerusakan alam, mulai dari deforestasi hingga hilangnya keanekaragaman hayati.
Rawing menegaskan, tudingan itu tidak sejalan dengan hasil penelitian empiris.
“Padahal berbagai studi justru menunjukkan sawit lebih berkelanjutan dibanding minyak nabati lain,” tegasnya.
Ia menilai kampanye hitam ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan strategi kompetitor untuk melemahkan posisi sawit di pasar global. (TESTI PRISCILLA/H)









