BORNEONEWS, New York – Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan tingkat kekerasan Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki telah mencapai level rekor dan terus meningkat sejak Oktober 2023.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menyebut situasi di Tepi Barat sebagai “perang senyap” yang luput dari perhatian dunia internasional.
“Apa yang terjadi di Tepi Barat merupakan perang senyap yang kurang mendapat liputan memadai,” ujar Lazzarini dalam pernyataan resminya, seperti dilaporkan WAFA dari New York, Ahad, 1 Februari 2026.
Menurut Lazzarini, sejak Oktober 2023 kekerasan di Tepi Barat meningkat tajam. Lebih dari 1.000 warga Palestina dilaporkan tewas, dengan hampir seperempat korban merupakan anak-anak.
Sejak dimulainya perang Israel di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, tentara dan pemukim Israel disebut semakin mengintensifkan tindakan kekerasan di Tepi Barat, mulai dari pembunuhan, perusakan rumah, pengusiran warga, hingga perluasan permukiman.
Data menunjukkan, kekerasan yang berlangsung selama lebih dari dua tahun itu telah menewaskan sedikitnya 1.110 warga Palestina, melukai sekitar 11.500 orang, serta menyebabkan lebih dari 21.000 warga ditahan.
Lazzarini juga menyoroti maraknya serangan pemukim Israel yang berlangsung tanpa sanksi. Komunitas Palestina, kata dia, terus mengalami intimidasi, perampasan tanah, serta perusakan mata pencaharian.
Saat ini, sekitar 770.000 pemukim Israel tinggal di ratusan permukiman dan pos terluar ilegal di Tepi Barat yang diduduki, termasuk sekitar 250.000 orang di Yerusalem Timur. Keberadaan mereka kerap disertai aksi kekerasan untuk memaksa warga Palestina meninggalkan wilayahnya.
“Puluhan ribu warga Palestina masih mengungsi setahun setelah Israel melancarkan Operasi Tembok Besi, operasi pengusiran terbesar sejak 1967. Rumah-rumah mereka kini dihancurkan secara bertahap untuk mencegah mereka kembali,” tambahnya.
Ia menegaskan, meski perhatian dunia tertuju pada Gaza, pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional di Tepi Barat terus berlangsung dan kian dianggap sebagai hal yang biasa.
“Sementara dunia fokus pada Gaza, pelanggaran terang-terangan hukum humaniter internasional di Tepi Barat terus terjadi,” kata Lazzarini.
Sumber: WAFA/ANTARA









