BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur getol mengembangkan objek wisata, termasuk objek wisata religius, yaitu makam salah satu ulama di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.

“Selain masyarakat Kotim, yang berkunjung atau berziarah di sini kebanyakan dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Palangka Raya bahkan dari Pulau Jawa,” kata Kepala Desa Ujung Pandaran, Aswinur, Rabu (14/12/2016).

Makam ulama di Desa Ujung Pandaran yang sering dikunjungi peziarah, adalah makam Syekh Abu Hamid bin As`ad. Ulama itu buyut Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary atau sering disebut Datu Kelampayan yang merupakan ulama terkenal di Kalimantan Selatan, pengarang kitab Sabilal Muhtadin.

Makam Syekh Abu Hamid bin As`ad terletak di pantai tersebut. Namun lokasinya berada sedikit terpisah dengan lokasi yang biasa dijadikan tempat kegiatan wisata di objek tersebut.

Setiap tahun, ratusan peziarah dari berbagai daerah hadir saat digelar acara rutin, yaitu haul untuk mendoakan almarhum.

“Kompleks makam dibenahi untuk wisata religius. Hanya saja kalu kalau air laut pasang, peziarah harus menggunakan kelotok. Soalnya kalau jalan kaki sekitar tiga hingga empat kilometer,” kata Aswinur.

Desa Ujung Pandaran merupakan objek wisata andalan Kabupaten Kotawaringin Timur karena memiliki pantai yang indah menghadap Laut Jawa. Tiap musim libur Lebaran, pantai yang berjarak sekitar 85 kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Kotawaringin Timur, Sampit itu, selalu dipadati puluhan ribu wisatawan yang sebagian berasal dari luar daerah.

Pemkab Kotawaringin Timur sedang gencar melakukan sejumlah pembenahan objek wisata unggulan di daerah itu, seiring program pemerintah daerah menjadikan Sampit sebagai kota tujuan wisata pada 2017.

Pembangunan infrastruktur dan penataan kawasan objek wisata terus dilakukan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Kotawaringin Timur. Pemerintah daerah berharap sektor itu bisa turut mengangkat kesejahteraan masyarakat serta pendapatan asli daerah.

Camat Teluk Sampit Samsurijal mengatakan, selain memperhatikan infrastruktur dan kelestarian kubah makam, pemerintah daerah memprogramkan pembangunan jalan menuju lokasi kubah tersebut.

“Selain akan dibangun akses jalan. Tahun ini pemerintah anggarkan Rp79 juta untuk bangun musala di kompleks makam. Saat ini masih dalam proses penyelesaian pembangunan,” kata Samsurijal. (RAFIUDIN/m)