BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Industri sawit Malaysia mengalami tekanan setelah data pemerintah negeri itu menunjukkan terjadinya penurunan produksi dan ekspor, sementara stok justru meningkat.
Dalam data terbaru, Lembaga Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB), menyebutkan selama November terjadi penurunan produksi minyak sawit yang lebih besar dari perkiraan, yakni turun sebesar 6,1 persen menjadi 1,57 juta ton. Pada saat yang sama, cadangan minyak sawit mengalami peningkatan 5,1 persen menjadi 1,66 juta ton.
Laporan MPOB, yang dilansir The Star, Kamis (15/12/2016), juga menyatakan, kinerja ekspor menurun 4,2 persen menjadi 1,37 juta ton. Namun angka itu masih lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Reuters yang turun sebesar sekitar 10 persen.
Sementara itu, harga minyak kedelai untuk kontrak Januari di CBOT tercatat naik 0,3 persen, sedangkan harga minyak kedelai untuk kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange melemah 0,7 persen.
Dengan kondisi tersebut, diperkirakan harga minyak sawit Malaysia akan melanjutkan penguatannya. Tercatat, futures minyak sawit acuan untuk kontrak Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,9 persen menjadi 3.125 ringgit ($703) per ton pada akhir perdagangan, Rabu (14/12). Sebelumnya, harga sempat menyentuh 3.141 ringgit, yang merupakan level tertinggi sejak 7 Desember.
Ditambah lagi dengan melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS, maka dukungan bagi penguatan harga minyak sawit akan semakin solid. (NEDELYA RAMADHANI/m)








