BORNEONEWS, Palangka Raya – Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palangka Raya, Berlianto mengumumkan program pengelolaan limbah minyak jelantah dengan menyetorkannya ke Bank Sampah Jekan Mandiri yang berlokasi di Jalan G Obos XII.
"Dalam program ini, minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat akan diberikan nilai ekonomi sebesar Rp3.000 per kilogram, sehingga kegiatan pengelolaan limbah tidak hanya menjaga lingkungan tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi perekonomian warga," kata Berlianto, Rabu, 4 Februari 2026.
Berlianto menjelaskan bahwa penetapan harga Rp3.000 per kilogram merupakan bentuk apresiasi pemerintah kota terhadap partisipasi masyarakat dalam mengelola limbah secara benar.
"Minyak jelantah yang biasanya dianggap sebagai limbah tidak berguna ternyata memiliki nilai tinggi jika dikelola dengan tepat," tambahya.
Selain itu harga ini juga dirancang untuk menjadi insentif yang cukup menarik agar lebih banyak masyarakat dan pelaku usaha kuliner tergerak untuk mengumpulkan dan menyetorkan minyak jelantah mereka.
"Minyak jelantah termasuk limbah yang perlu dikelola secara terpisah karena memiliki potensi besar untuk mencemari air tanah, sungai, dan ekosistem sekitar jika dibuang sembarangan. Setiap rumah tangga dan usaha yang menghasilkan minyak jelantah diwajibkan untuk mengelolanya dengan benar, salah satunya melalui penyerahan ke Bank Sampah Jekan Mandiri," jelasnya.
Berlianto mengajak masyarakat dapat mengumpulkan minyak jelantah menggunakan wadah tertutup yang bersih dan kedap untuk menghindari kontaminasi dan tumpahan.
Penyerahan dapat dilakukan langsung ke Bank Sampah Jekan Mandiri pada jam operasional pukul 08.00 – 16.00 WIB setiap hari kerja.
Bank Sampah Jekan Mandiri kata Berlianto sebagai mitra utama telah mendapatkan dukungan penuh dari DLH untuk meningkatkan kapasitas operasional.
Pemerintah kota telah mengalokasikan anggaran untuk pembelian peralatan pendukung seperti tangki penyimpanan khusus, alat pemisah kotoran, dan mesin pendukung proses daur ulang.
Minyak jelantah yang terkumpul akan diolah menjadi produk bernilai tambah seperti biodiesel untuk kendaraan transportasi umum daerah, sabun mandi berkualitas tinggi, dan sabun cuci yang kemudian dijual untuk mendanai operasional bank sampah serta program lingkungan lainnya.
Berlianto menekankan bahwa, program ini diharapkan memberikan dampak positif ganda bagi Kota Palangka Raya. Selain mengurangi risiko pencemaran lingkungan dan menjaga kelestarian sumber daya alam, program ini juga dapat menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat.
"Kami juga berencana untuk melakukan sosialisasi masif ke seluruh kecamatan kota dan memperluas kerja sama dengan asosiasi pelaku usaha kuliner agar program ini dapat menjangkau lebih banyak orang dan memberikan manfaat yang lebih luas," pungkasnya. (MARINI/R)









