BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia diperkirakan akan mencatat kenaikan produksi untuk komoditas ini sekitar 10% pada 2017.
Peningkatan produksi minyak sawit Indonesia ini diprediksi dapat menekan harga sawit dunia yang menguat sekitar 25% tahun ini menyusul meningkatnya kekhawatiran akan ketatnya pasokan komoditas tersebut.
Dalam survei yang dilakukan Reuters, seperti dilansir The Star, Kamis (15/12), sejumlah pelaku industri dan analis memprediksi terjadi kenaikan produksi minyak sawit di Indonesia, dengan peningkatan terbesar terjadi pada semester kedua 2017.
Analis memperkirakan tingkat produksi minyak sawit Indonesia akan berada di kisaran 30-32 juta ton tahun ini, turun dari 35,5 juta ton pada 2015.
“Pemulihan itu sebagian besar didukung oleh tersedianya lahan baru untuk penanaman, yang akan berkontribusi terhadap produksi sekitar sejuta ton," kata seorang pelaku pasar yang tak bersedia disebutkan identitasnya.
“Jika berbicara soal produksi tahun depan, tentu belum bisa menyamai level yang tercapai pada 2015,” imbuhnya.
Dampak dari fenomena El Nino tahun lalu, yang biasanya memicu panas terik di kawasan perkebunan kelapa sawit, menjadi salah satu kendala untuk meningkatkan produksi.
Hasil survei Reuters tersebut tak beda jauh dengan prediksi dari sejumlah analis bulan lalu, yang menyebutkan angka produksi minyak sawit nasional akan berada di kisaran 33-35 juta ton pada 2017.
Survei menyebutkan bahwa area perkebunan di Kalimantan dan Sumatera akan menjadi kawasan yang paling banyak menunjang pemulihan produksi.
“Sebagian besar area di Kalimantan sudah mulai menunjukkan pemulihan dalam hal produksi meski kawasan tersebut sebagai salah satu wilayah yang terparah terkena dampak El Nino,” ujar Franki Anthony Dass dari Sime Darby Bhd.
“Peningkatan kuat juga akan terjadi di beberapa kawasan di Sumatera," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








