BORNEONEWS, Palangka Raya - Produksi padi Kalimantan Tengah sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling atau GKG sebesar 333,43 ribu ton GKG, atau turun 8,94 persen dibandingkan 2024. Penurunan ini mencerminkan tekanan pada sektor tanaman pangan di daerah.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Taufiqurrahman, mengungkapkan bahwa turunnya produksi padi sejalan dengan menyusutnya luas panen.
"Pada 2025, luas panen padi tercatat 97,15 ribu hektare, turun 12,49 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 111,02 ribu hektare," katanya pada Rabu, 4 Februari 2026.
Dampak penurunan produksi padi turut tercermin pada produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk.
"Sepanjang 2025, produksi beras diperkirakan mencapai 198,06 ribu ton, turun 19,43 ribu ton atau 8,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya," jelas Taufiqurrahman lagi.
Angka ini menjadi indikator penting dalam memantau kecukupan pasokan beras daerah.
Memasuki awal 2026, BPS memperkirakan adanya peluang peningkatan aktivitas panen. Potensi luas panen padi pada Januari–Maret 2026 diproyeksikan sebesar 23,68 ribu hektare, naik tipis 1,25 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Proyeksi ini memberi sinyal adanya perbaikan dari sisi luasan tanam.
Namun, dari sisi produksi, potensi yang tercatat justru mengalami penurunan tipis.
"Potensi produksi padi pada Januari–Maret 2026 diperkirakan 89,18 ribu ton GKG, turun 1,56 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya," katanya.
Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas masih menjadi tantangan.
Taufiqurrahman menekankan bahwa angka potensi untuk Januari–Maret 2026 belum mencerminkan realisasi akhir. Hasil panen yang sesungguhnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan kondisi tanaman di lapangan, dinamika cuaca, serta pengelolaan budidaya padi oleh petani di berbagai sentra produksi Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/j)









