BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menyatakan produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional pada November 2016 kemungkinan besar hanya mencapai 3,35 juta ton.
"Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, puncak panen sawit hanya terjadi pada Oktober dan panen mulai menurun pada November dan Desember. Perbedaannya, penurunan produksi tahun ini terjadi lebih lama, salah satu penyebabnya pergeseran musim hujan dan biasanya turunnya cepat, tapi tahun ini agak bertahan," kata Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun kepada pers di Jakarta, Kamis (15/12/2016).
Penurunan produksi, menurut Derom, tidak terjadi merata di seluruh Indonesia. Produksi perkebunan di sepanjang pantai barat wilayah utara Sumatera misalnya, akan lebih baik karena ditopang kondisi cuaca yang lebih baik.
"Untuk Desember, produksi kami proyeksikan lebih rendah dari November. Ini siklus tahunan, penurunan produksi akan berlanjut hingga Januari dan Februari tahun depan," papar dia.
Secara umum, lanjut Derom, perusahaan perkebunan yang tidak melakukan perluasan lahan akan mengalami penurunan produksi sekitar 8%. Penyebabnya, umur tanaman yang sudah lebih dari 19 tahun hingga 20 tahun, ditambah cuaca yang tidak mendukung.
"Pohon yang berumur lebih dari 20 tahun biasanya mulai tertular penyakit. Akibatnya, apabila awalnya setiap hektare (ha) perkebunan terdapat 130 pohon, selanjutnya tinggal 100 hingga 110 pohon per ha. Perusahaan yang melakukan perluasan akan menikmati kenaikan produksi dari tanaman belum menghasilkan menjadi menghasilkan dan produktivitas tanaman yang mulai berumur 5-6 tahun atau lebih juga naik, misalnya dari 10 ton tandan buah segar (TBS) per ha menjadi 14 ton TBS per ha," ujarnya.
Derom menambahkan, untuk ekspor mencapai 2,2 juta ton pada November 2016, sedangkan konsumsi domestik sekitar 850.000 ton.
"Dengan demikian, stok pada akhir November tahun ini ditaksir menjadi 2,1 juta ton. Ekspor kecenderungannya dipengaruhi masa festive (hari raya), tapi juga oleh pergerakan harga minyak bumi," tutur Derom. (NEDELYA RAMADHANI/m)








