SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) merilis kronologis lengkap peristiwa angin kencang yang menyebabkan rumah roboh, pohon tumbang, serta kerusakan bangunan di wilayah Sampit, Rabu, 4 Februari 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, menjelaskan bahwa berdasarkan data alat BMKG H Asan Sampit, saat kejadian terpantau kecepatan angin gusty atau hembusan kuat mencapai 20 knots. Angin kencang tersebut berasal dari awan Cumulonimbus (CB) yang berpotensi memicu cuaca ekstrem.

"Berdasarkan data BMKG, angin kencang berasal dari awan Cumulonimbus dengan kecepatan hembusan mencapai 20 knots," ujar Multazam, Kamis, 5 Februari 2026.

Ia menyebut, cuaca ekstrem terjadi mulai pukul 15.40 WIB hingga sekitar pukul 16.07 WIB. Akibat kejadian tersebut, sejumlah dampak dilaporkan di beberapa titik, di antaranya pohon tumbang di Jalan Kenan Sandan, Kelurahan Baamang Tengah, Kecamatan Baamang. Pohon tumbang tersebut sempat menutup badan jalan, namun berhasil ditangani dan kondisi kembali aman.

Pohon tumbang juga terjadi di Jalan MT Haryono, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kejadian ini juga dapat diatasi dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Selain itu, angin kencang mengakibatkan kerusakan atap rumah di Perumahan Graha Pramuka, Jalan Saudara, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Bagian atap depan rumah terlepas akibat angin kencang. Saat kejadian, penghuni rumah sedang berada di tempat kerja di kawasan perusahaan sawit Jalan Jenderal Sudirman Km 109 dan baru mengetahui kejadian tersebut melalui pesan dari warga sekitar.

Dampak terparah terjadi di Jalan Madiun Ngawi, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, berupa satu unit rumah semi permanen roboh. Rumah berukuran sekitar 12 x 7 meter tersebut hancur akibat terjangan angin kencang.

"Hasil kaji cepat sementara, satu rumah semi permanen hancur beserta peralatan rumah tangga dan peralatan bertukang," katanya.

Pemilik rumah yang roboh tersebut atas nama Zainal dengan jumlah anggota keluarga tiga orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun. Saat kejadian, Zainal sedang bekerja, sementara di rumah hanya istri dan anaknya.

Merasa rumah bergerak akibat angin kencang, istri dan anaknya segera keluar rumah, tidak lama kemudian bangunan rumah roboh diterjang angin. Selain itu, rumah kedua yang dihuni Hamid bersama istrinya yang sedang hamil juga terdampak. Keduanya sempat keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

"Untuk sementara, keluarga korban mengungsi ke rumah saudaranya. Kerugian akibat rumah roboh dan peralatan yang rusak ditaksir mencapai kurang lebih Rp50 juta," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)