BORNEONEWS, Palangka Raya – Sekretaris Komisi I DPRD Kalteng Pipit Setyorini menegaskan bahwa esensi dari pembangunan sejati terletak pada pemusatan perhatian pada kepentingan rakyat kecil.
Menurutnya, setiap langkah pembangunan yang dilakukan harus senantiasa mengedepankan kesejahteraan dari akar rumput sebagai prioritas utama.
Pipit menyatakan bahwa konsep pembangunan yang benar tidak boleh hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, melainkan harus berdiri di atas landasan kepentingan masyarakat yang paling membutuhkan.
Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur hanya dari angka statistik, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang dirasakan oleh lapisan bawah masyarakat.
Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah harus memastikan masyarakat akar rumput mendapatkan ruang yang layak untuk berkembang, perlindungan yang memadai dari berbagai bentuk ketidakadilan, serta kesempatan yang adil dalam mengakses sumber daya dan peluang hidup. Hal ini menjadi bagian penting untuk menciptakan kesetaraan dalam pembangunan.
"Keberpihakan pada rakyat bukan sekadar wacana, melainkan komitmen nyata yang harus diwujudkan dalam setiap langkah kebijakan dan implementasi pembangunan," ujarnya, Kamis, 5 Februari 2026.
Menurut Pipit, sikap berkewajiban terhadap rakyat harus menjadi landasan bagi setiap pihak yang terlibat dalam proses pembangunan di Kalimantan Tengah.
Ia menambahkan bahwa pembangunan harus dijadikan sebagai alat perjuangan menuju terwujudnya keadilan sosial dan kesejahteraan bersama bagi seluruh masyarakat Kalteng. Tanpa adanya keadilan sosial, pembangunan yang dilakukan berisiko hanya menguntungkan sebagian kalangan dan memperlebar jurang kesenjangan antar lapisan masyarakat.
Pernyataan ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan berbagai kebijakan pembangunan.
"Tujuannya adalah agar setiap langkah yang diambil benar-benar membawa manfaat nyata dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat Kalimantan Tengah," pungkasnya. (PATHUR/H)









