BORNEONEWS, Sampit – Zainal, pemilik rumah yang roboh akibat angin kencang di Jalan Madiun–Ngawi, Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menceritakan detik-detik peristiwa yang menghancurkan rumahnya, Rabu sore, 4 Februari 2026.
Menurut Zainal, angin datang secara tiba-tiba sekitar pukul 15.30 WIB dan berputar menyerupai angin puting beliung. Meski berlangsung singkat, kekuatannya sangat besar hingga mampu mengangkat bangunan rumah kayu miliknya.
"Anginnya berputar, seperti puting beliung. Kejadiannya cepat, sekitar enam menit saja. Orang yang di dalam rumah melihat rumah terangkat, lalu langsung keluar," kata Zainal, Kamis, 5 Februari 2026.
Ia menjelaskan, bagian rumah yang pertama kali terangkat adalah teras, kemudian disusul bagian belakang. Arah robohnya bangunan ke samping, dari utara ke selatan, seiring arah hembusan angin yang datang dari utara.
"Menurut pekerja bangunan yang melihat kejadian itu, anginnya dari utara. Suaranya seperti hujan deras, tapi ternyata itu angin yang berputar. Saat itu belum hujan," jelasnya.
Zainal menambahkan, saat kejadian, dirinya tidak berada di rumah. Hanyab istri dan anaknya yang masih balita berada di lokasi kejadian. Saat itu sempat mendengar suara keras dari luar. Tak lama kemudian seng atap teras terangkat disusul bagial belakang bangunan, kemudian rumah langsung roboh.
Akibat kejadian tersebut, seluruh harta benda di dalam rumah rusak dan hancur tertimpa reruntuhan, salah satunya kendaraan bermotor. Zainal menaksir kerugian yang dialaminya mencapai lebih dari Rp50 juta.
"Kerugian sekitar Rp50 juta lebih. Ini rumahnya dari kayu ulin. Kalau nanti ada dana, mungkin dibangun sedikit demi sedikit," katanya.
Untuk sementara waktu, Zainal bersama keluarganya terpaksa tinggal di rumah tetangga yang berada di belakang rumahnya. (DEWI PATMALASARI/J)









