PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Perum Bulog Wilayah Kalimantan Tengah melakukan intervensi pasar menyusul masih ditemukannya harga Minyakita yang dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) jelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah. Langkah ini dilakukan untuk menahan laju kenaikan harga dan menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat.

Kepala Kantor Bulog Wilayah Kalteng, Budi Sultika, mengungkapkan hasil peninjauan lapangan bersama tim gabungan masih menemukan Minyakita dijual di kisaran Rp16.800 hingga Rp18.000 per liter, jauh di atas HET yang ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.

“Ini jelas di atas HET. Dari hasil pengecekan, minyak goreng yang dijual mahal tersebut bukan berasal dari distribusi BUMN,” ujar Budi di Palangka Raya, Kamis, 5 Februari 2026.

Sebagai bentuk intervensi nyata, Bulog Kalteng telah melakukan pemesanan Minyakita sebanyak 1,9 juta liter dari tiga pabrik besar. Pasokan tersebut akan didistribusikan ke seluruh wilayah Kalimantan Tengah hingga akhir Februari 2026.

Menurut Budi, distribusi ini ditargetkan mampu menekan harga Minyakita di pasaran dalam beberapa minggu ke depan, sekaligus memastikan ketersediaan minyak goreng tetap aman selama periode Ramadhan hingga Idul Fitri.

“Begitu pasokan Bulog masuk ke pasar, kami harapkan harga Minyakita bisa kembali sesuai ketentuan,” tegasnya.

Langkah Bulog ini merupakan tindak lanjut mandat pemerintah kepada BUMN untuk aktif menjaga stabilitas harga minyak goreng. Mandat tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025, yang mengatur kewajiban pendistribusian 35 persen dari total kuota Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita.

Bulog memastikan pengawasan distribusi akan terus dilakukan agar minyak goreng bersubsidi benar-benar sampai ke masyarakat dengan harga yang semestinya.