PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kedalaman dan keparahan kemiskinan di Kalimantan Tengah menunjukkan tren membaik sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat, dua indikator utama kemiskinan, yakni Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2), sama-sama mengalami penurunan pada periode Maret hingga September 2025.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengatakan penurunan kedua indeks tersebut mencerminkan semakin dekatnya rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan, sekaligus berkurangnya ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

“Ini menunjukkan perbaikan kondisi kesejahteraan kelompok miskin, tidak hanya dari sisi jumlah, tetapi juga kualitas pemenuhannya,” kata Agnes pada Jumat, 6 Februari 2026.

Secara rinci, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 tercatat sebesar 0,611, turun dibandingkan Maret 2025 yang berada di angka 0,829. Penurunan ini mengindikasikan jarak rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin menyempit.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada September 2025 tercatat sebesar 0,113, menurun dari 0,189 pada Maret 2025.

"Turunnya P2 menandakan tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin juga semakin rendah, sehingga kondisi kemiskinan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja," terang Agnes.

BPS juga mencatat karakteristik rumah tangga miskin di Kalimantan Tengah. Pada September 2025, rata-rata rumah tangga miskin memiliki 4,62 orang anggota rumah tangga. Komposisi ini menjadi faktor penting dalam perhitungan kebutuhan minimum rumah tangga untuk memenuhi standar hidup layak.

"Dengan rata-rata jumlah anggota tersebut, besarnya Garis Kemiskinan per rumah tangga miskin di Kalimantan Tengah tercatat Rp3.158.528 per bulan," katanya. (TESTI PRISCILLA/J)