JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengintensifkan koordinasi lintas lembaga untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng), melalui opsi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kemenhut, Thomas Nifinluri, mengatakan koordinasi dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta TNI, sebagai langkah mitigasi dini menghadapi potensi peningkatan karhutla.

“Sejak awal 2026, Manggala Agni bersama para pihak terkait telah melakukan operasi pemadaman di sejumlah wilayah yang mulai menunjukkan kejadian kebakaran, terutama di Sumatra dan Kalimantan,” kata Thomas di Jakarta, Jumat, 6 Februari 2026.

Ia menjelaskan, pelaksanaan OMC dilakukan berdasarkan pertimbangan teknis bersama BMKG, BNPB, dan TNI Angkatan Udara, terutama ketika terdapat indikasi peningkatan kekeringan, potensi kebakaran meluas, serta kondisi awan yang memungkinkan dilakukan penyemaian hujan.

Saat ini, Kemenhut terus melakukan koordinasi intensif untuk kesiapan OMC di wilayah prioritas rawan karhutla, termasuk Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat, serta Sumatra bagian timur seperti Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan.

Thomas mengungkapkan, potensi kebakaran hutan meningkat akibat distribusi hujan yang tidak merata. Sejumlah daerah mengalami hari tanpa hujan dalam periode cukup panjang, sehingga memicu kondisi lahan yang kering.

Data BMKG menunjukkan Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di beberapa wilayah berada pada tingkat kekeringan yang mengkhawatirkan, termasuk di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Aceh, dan Sumatra Utara.

Selain itu, berdasarkan analisis ENSO dan IOD, kondisi iklim mulai bergerak menuju Netral sejak Februari 2026, setelah sebelumnya berada pada fase La Nina lemah hingga pertengahan tahun. Perubahan ini dinilai meningkatkan risiko karhutla di sejumlah wilayah.

“Ada wilayah yang masih mengalami hujan, tetapi ada juga yang sudah memasuki periode kering lebih awal. Kondisi ini meningkatkan potensi karhutla, terutama yang dipicu aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan cara membakar atau akibat kelalaian,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah memastikan langkah mitigasi terus dilakukan, mulai dari patroli pencegahan di daerah rawan, peningkatan kesiapsiagaan personel Manggala Agni, hingga penyiapan peralatan dan logistik pendukung.

Kemenhut berharap, melalui koordinasi intensif dan kesiapsiagaan lintas sektor, potensi karhutla di Kalteng dapat ditekan sejak dini dan tidak meluas seperti tahun-tahun sebelumnya.

ANTARA