PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kalimantan Tengah menempati peringkat keempat pada peta perekonomian Regional Pulau Kalimantan. Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng saat menyampaikan berita resmi perkembangan ekonomi Kalteng periode triwulan IV-2025 pada Sabtu, 7 Februari 2026.

"Struktur ekonomi Kalimantan secara spasial pada 2025 masih didominasi Provinsi Kalimantan Timur dengan kontribusi sebesar 46,31 persen. Kalimantan Tengah berada di peringkat keempat dengan andil 12,56 persen, mencerminkan posisi daerah ini dalam peta perekonomian regional Pulau Kalimantan," kata Agnes.

Di tengah peta kekuatan ekonomi tersebut, perekonomian Kalimantan Tengah sepanjang 2025 tetap menunjukkan kinerja positif. Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, nilai ekonomi Kalteng mencapai Rp241,1 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 tercatat Rp124,4 triliun.

Agnes Widiastuti, menyampaikan bahwa ekonomi Kalteng pada 2025 tumbuh sebesar 4,80 persen. Capaian ini mencerminkan aktivitas ekonomi daerah yang relatif terjaga sepanjang tahun.

"Dari sisi produksi, lapangan usaha Transportasi dan Pergudangan mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang 2025 sebesar 10,91 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen Ekspor Barang dan Jasa menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 10,67 persen," katanya lagi.

Secara tahunan, ekonomi Kalimantan Tengah pada triwulan IV-2025 dibandingkan triwulan IV-2024 (year-on-year) tumbuh 4,79 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Jasa Keuangan yang meningkat 12,19 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen Ekspor Barang dan Jasa mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 16,18 persen.

Sementara itu, secara triwulanan, ekonomi Kalteng pada triwulan IV-2025 dibandingkan triwulan III-2025 (quarter-to-quarter) tumbuh signifikan sebesar 7,70 persen. Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi dicapai kategori Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib yang melonjak 36,42 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Pemerintah menjadi pendorong utama dengan kenaikan 18,10 persen. (TESTI PRISCILLA/j)