JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington – Iran disebut membuka peluang untuk menghentikan sementara program nuklirnya dengan syarat Amerika Serikat mencabut sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan. Opsi tersebut mengemuka di tengah kembali dibukanya jalur diplomasi antara Teheran dan Washington setelah berbulan-bulan ketegangan.

Laporan The New York Post menyebutkan, kesiapan Iran itu disampaikan oleh sejumlah pejabatnya seiring berlangsungnya pertemuan diplomat Amerika Serikat dan Iran di Oman. Pembicaraan difokuskan pada upaya meredakan ketegangan kawasan Timur Tengah serta mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Pertemuan ini menjadi negosiasi pertama kedua negara setelah terhenti akibat meningkatnya konflik terbuka Iran–Israel pada Juni 2025, yang sebelumnya telah melalui lima putaran konsultasi.

Delegasi Iran dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara pihak Amerika Serikat diketuai oleh Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump. Menjelang pertemuan utama, kedua delegasi terlebih dahulu menggelar pertemuan terpisah dengan Menteri Luar Negeri Oman Badr Al Busaidi, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran.

Di sisi lain, media AS NBC News sebelumnya melaporkan bahwa pemerintahan Presiden Trump dinilai belum memiliki gambaran yang sepenuhnya jelas mengenai tujuan strategis Washington apabila opsi militer terhadap Iran benar-benar dijalankan.

Pada 4 Februari lalu, Presiden Trump kembali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Teheran. Ia menyebut Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei “seharusnya sangat khawatir” dan mengancam akan melakukan “hal-hal yang sangat buruk” jika Iran melanjutkan pengembangan program nuklirnya di fasilitas baru.

Trump juga mengungkapkan bahwa sebuah “armada besar” telah dikerahkan menuju kawasan Iran, sembari berharap Teheran bersedia kembali ke meja perundingan dan menandatangani kesepakatan yang disebutnya “adil dan seimbang”, termasuk penghentian total pengembangan senjata nuklir.

Presiden AS itu memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan nuklir akan berujung pada tindakan militer yang “jauh lebih buruk” dibandingkan serangan-serangan sebelumnya.

Situasi ini menandai fase krusial hubungan AS–Iran, di mana jalur diplomasi kembali diuji di tengah ancaman sanksi, tekanan militer, dan ketidakpastian stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA