BORNEONEWS, Beijing – Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap upaya perundingan damai terkait program nuklir Iran yang tengah berlangsung antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) di Oman. Beijing menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui dialog demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
“China terus menjaga komunikasi dengan berbagai pihak terkait dan berharap semua perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog, serta bersama-sama menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Jumat, 6 Februari 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pertemuan antara Wakil Menteri Luar Negeri China Miao Deyu dan Asisten Menteri Luar Negeri Liu Bin dengan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi di Beijing, Kamis (5/2).
Dalam pertemuan itu, Gharibabadi memaparkan kondisi domestik Iran serta perkembangan terbaru terkait isu nuklir. Ia menegaskan komitmen Teheran untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur diplomasi serta mendorong perundingan yang berlandaskan prinsip keadilan dan kesetaraan.
Iran juga menolak segala bentuk intimidasi dan tekanan dari luar, sekaligus mengapresiasi peran China dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan maupun global. Teheran bahkan menyambut kemungkinan peran Beijing yang lebih besar dalam proses diplomasi ke depan.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri China Miao Deyu menegaskan sikap Beijing yang konsisten mendukung Iran dalam menjaga kedaulatan, keamanan, dan martabat nasionalnya, serta melindungi hak dan kepentingan sah negara tersebut.
“China menentang unilateralisme yang bersifat hegemonik, tekanan militer dalam hubungan internasional, serta segala bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negeri negara lain,” kata Miao.
China juga menyatakan siap memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan seluruh pihak terkait, termasuk Iran, guna menegakkan tujuan dan prinsip Piagam PBB, menjunjung kesetaraan kedaulatan negara, serta menjaga keadilan internasional.
Di sisi lain, delegasi Iran dan Amerika Serikat kini memulai pembicaraan tidak langsung di Muscat, ibu kota Oman. Proses negosiasi dilakukan melalui mediasi Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Hamad Al Busaidi, dengan masing-masing delegasi berada di ruangan terpisah dan bertukar catatan diplomatik.
Pertemuan ini menjadi negosiasi pertama setelah jeda berbulan-bulan akibat meningkatnya konflik terbuka Iran–Israel pada Juni 2025, setelah sebelumnya berlangsung lima putaran konsultasi.
Perundingan berlangsung di tengah ketegangan yang terus meningkat antara Washington dan Teheran, dipicu oleh penguatan militer AS di Teluk Persia serta ancaman aksi militer berulang kali dari Presiden AS Donald Trump.
Trump sebelumnya memperingatkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan mengancam akan mengambil tindakan keras jika Iran melanjutkan program nuklirnya di fasilitas baru. Ia juga menyebut pengerahan “armada besar” ke kawasan Iran, sembari berharap tercapainya kesepakatan nuklir yang disebutnya “adil dan merata”.
Amerika Serikat bersama sekutunya, Israel, terus menuding Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun Iran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk pembangkit listrik dan kebutuhan energi nasional.
ANTARA









