SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Mudlofar memastikan kondisi kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Kotim tetap terjaga dengan baik, meskipun perayaan Tahun Baru Imlek dan awal Ramadan tahun ini berlangsung berdekatan.

"Kita saling menghormati dan saling menghargai, karena masing-masing punya keyakinan. Yang terpenting adalah saling menjaga, sehingga kehidupan masyarakat di Sampit dan Kotim bisa tetap guyub, rukun, dan harmonis," kata Mudlofar, Sabtu, 7 Februari 2026.

Ia menegaskan, hingga saat ini harmonisasi umat beragama di Kotim berjalan sangat baik. Komunikasi lintas agama terus terjalin, sehingga potensi konflik dapat dicegah sejak dini.

"Alhamdulillah, selama ini harmonisasi di Kotim terjaga dengan bagus. Kami rutin melakukan komunikasi lintas agama dan belum ada persoalan-persoalan mendasar. Justru yang terbangun adalah keakraban antartokoh agama," ujarnya.

Mudlofar menambahkan, keakraban tersebut diwujudkan melalui saling berbagi informasi dan menjaga silaturahmi, yang menjadi bagian dari tugas FKUB dalam merawat kerukunan umat beragama di daerah.

Terkait berdekatan waktu perayaan Imlek dan bulan suci Ramadan, Mudlofar menegaskan tidak diperlukan pengamanan atau penjagaan khusus.

"Tidak perlu ada penjagaan khusus, karena semua itu sudah berjalan secara alami dan harmoninya sudah terjaga dengan baik," imbuhnya.

Ia menyebut, hubungan FKUB dengan komunitas Buddha, Khonghucu, Hindu, Ismam serta agama lainnya di Kotim selama ini terjalin sangat baik. Bahkan, dalam berbagai kegiatan keagamaan, para tokoh lintas agama kerap saling mengundang.

"Biasanya kami diundang dalam acara keagamaan, bukan saat ritualnya, tetapi pada kegiatan seremonialnya. Ritual tetap berjalan terpisah sesuai keyakinan masing-masing," terangnya.

Menurut Mudlofar, hal tersebut menjadi bukti nyata kuatnya toleransi dan keharmonisan umat beragama di Kotim. Ia pun menegaskan, tidak ada persoalan terkait awal Ramadan yang berdekatan dengan puncak perayaan Imlek.

"Tidak ada masalah, puncak perayaan Imlek tanggal 17 Februari, sementara Muhammadiyah telah menetapkan tanggal 18 Februari sudah Ramadan. Kalau pemerintah masuh menunggu penetapan 1 Ramadan. Kedamaian insya Allah tetap terjaga," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)