PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kemampuan baca dan tulis anak-anak di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) dinilai masih sangat memprihatinkan. Kondisi tersebut ditemukan pada berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga lulusan sekolah lanjutan tingkat atas atau SLTA.

Pegiat literasi sekaligus Founder Komunitas Insan Kreatif Gemilang Volunteer, Mia Cisadani, mengungkapkan bahwa permasalahan membaca tidak hanya berkaitan dengan kelancaran mengeja, tetapi juga pemahaman terhadap isi bacaan.

“Dalam membaca ada dua tahap, pertama pelafalan atau mengenal huruf dan bunyinya, kedua tahap pemahaman. Fakta di lapangan, banyak anak di Kobar belum mampu memahami bacaan, bahkan sebagian belum bisa membaca dari tahap awal,” ujarnya, Sabtu, 7 Februari 2026.

Menurutnya, rendahnya kemampuan pemahaman bacaan anak-anak di Kabupaten Kobar sejalan dengan kondisi literasi pelajar Indonesia secara nasional yang masih berada di bawah rata-rata, sebagaimana tercermin dalam hasil asesmen internasional.

Berdasarkan pengalaman lapangan, Mia mengaku pernah mendampingi program baca tulis di sebuah sekolah dasar, di mana terdapat 22 siswa kelas 2 hingga kelas 5 SD yang belum mampu membaca.

Selain di jenjang SD, kasus serupa juga ditemukan di tingkat sekolah menengah pertama. Ia pernah memberikan pendampingan baca tulis di 2 SMP dengan jumlah peserta masing-masing 5 siswa dan 12 siswa, yang seluruhnya masih berada pada tahap pengenalan huruf.

“Ini benar-benar dimulai dari nol. Anak-anak tersebut belum mengenal huruf dan belum memahami cara membaca,” jelasnya.

Mia juga menemukan kasus anak putus sekolah yang berhenti di kelas 4 atau 5 sekolah dasar. Namun tidak memiliki kemampuan membaca. Bahkan, terdapat lulusan SMK di Pangkalan Bun yang belum bisa membaca dan saat ini bekerja sebagai tukang parkir.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan sekadar masalah individu, melainkan persoalan sistemik yang memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Ia menegaskan, membaca merupakan fondasi utama dalam proses pembelajaran.

Tanpa kemampuan membaca yang memadai, anak akan kesulitan mengikuti pelajaran lain dan berisiko tertinggal secara akademik, sosial, maupun mental. (NURITA/j)