PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Anak-anak yang belum mampu membaca dan menulis tidak hanya tertinggal secara akademik, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis yang berat. 

Hal ini disampaikan oleh penggiat literasi sekaligus Founder Komunitas Insan Kreatif Gemilang Volunteer Kabupaten Kotawaringin Barat, Mia Cisadani yang kerap berinteraksi langsung dengan anak-anak dalam program baca tulis dari nol.

“Anak-anak ini sangat rentan stres. Mereka tidak mengerti tulisan di papan, di buku, bahkan kadang diberi label negatif oleh guru. Akhirnya mereka minder, malu, dan kehilangan motivasi sekolah,” katanya, Minggu, 8 Februari 2026.

Selain itu anak yang tidak bisa membaca juga rentan menjadi korban perundungan, termasuk di grup media sosial, serta kesulitan mengekspresikan emosi.

“Ketika emosi negatif menumpuk dan tidak bisa disalurkan, risikonya bisa ke perilaku menyakiti orang lain atau dirinya sendiri,” jelasnya.

Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga masyarakat secara luas. Dalam jangka pendek, berpotensi meningkatkan kenakalan remaja dan pernikahan anak.

Sementara jangka menengah, bisa memicu meningkatnya pengangguran dan kriminalitas.

Kemudian, melalui komunitas Insan Kreatif Gemilang Volunteer Kabupaten Kobar, Mia bersama volunteer pendidikan menerapkan metode membaca bertahap yang mengadopsi pendekatan iqro dan visual gambar. 

Metode tersebut merupakan salah satu cara yang mudah dah menyenangkan. Setelah diuji coba beberapa kali bersama rekan-rekan volunteer dari latar belakang beragam, program ini rata-rata membutuhkan waktu sekitar 3 bulan hingga anak mampu membaca lancar dan memiliki minat baca.

Ia berharap semangat literasi terus dijaga demi menciptakan generasi yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Kuncinya kolaborasi. Guru harus melek literasi, sekolah menyediakan buku, orang tua memberi contoh membaca di rumah, dan pemerintah melakukan survei agar kebijakan benar-benar sesuai kondisi lapangan,” pungkasnya.(NURITA/R)