BORNEONEWS, Pulang Pisau– Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurabaya Bakar bersama Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran melakukan kunjungan mendadak ke Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (15/12/2016). Agenda itu merupakan tindak lanjut program Hutan Tanaman Rakyat di Kalimantan Tengah.


Siti Nurbaya dan Sugianto Sabran, didampingi Ketua PWI Margiono dan Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Sipet Hermanto, mengunjungi lokasi tempat akan didirikannya pabrik pengolahan kayu sengon di Jalan Trans Kalimantan, Desa Buntoi, Kecamatan Kahayan Hilir. Kemudian mereka berbincang dengan Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo di Rumah Jabatan Bupati.


Kepada wartawan, Siti mengatakan, sejak 1980-an negara sudah melepaskan hutan seluas hampir 18 juta hektare untuk rakyat. Namun hingga kini belum terlihat hasilnya dari segi kesejahteraan rakyat. Belajar dari itu, maka program HTR dibuat, dan kedatangannya untuk melihat kematangan rencana itu.


Terkait kunjungan ke lokasi akan berdirinya pabrik pengolahan itu, ucap Siti, untuk memastikan bahwa produk HTR berupa kayu sengon, nantinya memiliki hilir. Sebab selama ini, kata dia, masyarakat hanya disuruh menanam namun tak tahu harus menjual kemana.


Sementara soal skema, Siti Nurbaya menjelaskan, sistemnya nanti, masyarakat yang tergabung dalam HTR harus berbentuk kelompok tani atau koperasi. Kemudian dibuat kesepakatan antara pabrik dan petani supaya ada kepastian alur.


Pertemuannya dengan Bupati Pulang Pisau adalah untuk mengkoordinasikan rencana terkait program HTR dan kesiapan pemerintah kabupaten. Selain itu katanya, program ini nanti akan diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.


“Kita sempurnakan. Petaninya sudah terbentuk, alokasinya sudah ada, dan industrinya, sebagai mitra petani mau masuk,” kata Siti Nurbaya Bakar.


Sugianto Sabran menyampaikan, pihaknya amat serius mewujudkan program HTR di Pulang Pisau dan sejumlah kabupaten di Kalteng. Hal itu karena program ini juga dibarengi dengan industri hilir yakni pendirian pabrik pengolahan.


“Pembuatan industri, hilirisasi dari Hutan Tanaman Rakyat yang nanti akan berdiri disini. Tanamannya milik petani nanti kerjasama, ini nanti dengan PT Nagabuwana,” kata Sugianto Sabran.


Lanjut dia, HTR ini  memiliki potensi sangat besar untuk mensejahterakan masyarakat Kalteng. Selain menjadi industri yang berkelanjutan, pangsa pasarnya sangat bagus.


Selama ini kata dia, untuk pakaian tentara NATO dan Amerika, didatangkan dari Solo, Jawa Tengah. Namun ironisnya, bahan baku berupa tekstil didatangkan dari industri berbahan baku sengon di Norwegia.


Kalteng menyiapkan 16.000 hektare luas areal untuk HTR di Kabupten Pulang Pisau guna pemberdayaan masyarakat berbasis bisnis melalui perhutanan sosial. Lahan tersebut seluruhnya akan ditanami pohon sengon yang dikelola langsung oleh kelompok masyarakat.


Berdasarkan peta indikatif dari Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, terdapat sedikitnya 1,5 juta hektar (ha) lahan untuk perhutanan sosial. Skemanya adalah hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat (HTR), kemitraan, dan hutan adat.


Setiap keluarga akan mendapat minimal 15 hektar HTR dari 16.000 hektar (ha) yang disiapkan. Caranya melalui mekanisme kelompok tani atau usaha lalu tiap kelompok mengajukan proposal. Pemerintah juga akan langsung memberikan bibit sengon.


Sengon dipilih karena merupakan jenis tanaman yang mampu tumbuh lebih cepat dan menghasilkan keuntungan yang tinggi. Untuk tahap awal pemerintah sudah menyiapkan 2.500 bibit sengon untuk 11 kelompok tani di Pulang Pisau.


Meskipun demikian pemilihan tanaman sengon menimbulkan pertanyaan beberapa pihak. Tanaman ini dianggap tidak cocok pada lahan gambut yang dalam.


Terpisah, Deputi II Bidang Konstruksi, Operasional, dan Perawatan Badan Restorasi Gambut (BRG) Alue Dohong mengatakan, selama ini pihaknya masih fokus pada jenis tanaman lokal seperti belangiran, jabon, jelutung, dan lain sebagainya yang cocok dalam kondisi gambut dalam dan lembab. Sedangkan sengon tidak memenuhi syarat itu.


Alue menambahkan, tanaman sengon bisa ditanam di wilayah aluvial yang bukan di gambut dalam. Seprti di Pulang Pisau daerah pinggiran sungai masih cocok untuk dijadikan HTR dan ditanami sengon.


Dikesempatan yang lain, Direktur Save Our Borneo, Nordin menyarakan, skema HTR diperkaya dengan restorasi alam. Adapun caranya dengan penanaman tumbuhan endemik secara tumpang sari di HTR. (RONI SAHALA/m)