SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Deru mesin kelotok memecah permukaan sungai di Pulau Hanibung, Kota Besi, Minggu, 8 Februari 2026. Bukan sekadar perahu bermotor yang mulai berlayar, tetapi sebuah simbol: sungai yang kembali diberi ruang dalam denyut kehidupan Kotawaringin Timur.

Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, secara resmi meluncurkan kelotok susur sungai Pulau Hanibung. Di balik seremoni sederhana itu, tersimpan visi besar—menghidupkan kembali sungai sebagai jalur konektivitas, ruang wisata, sekaligus penggerak ekonomi berbasis kearifan lokal.

“Hari ini bukan hanya peluncuran sarana transportasi air. Ini adalah langkah strategis untuk mendukung pariwisata lokal dan menguatkan konektivitas wilayah,” ujar Halikinnor.

Bagi masyarakat Kotim, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah urat nadi sejarah. Sejak masa lampau, sungai menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, hingga interaksi sosial. Namun seiring perkembangan zaman, peran itu perlahan memudar.

Melalui program susur sungai Pulau Hanibung, pemerintah daerah ingin mengembalikan fungsi sungai ke tempat semestinya. Bukan hanya sebagai lintasan air, tetapi juga sebagai ruang wisata edukatif yang mengenalkan sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir sungai.

Halikinnor menegaskan, kelotok ini diharapkan menjadi pintu masuk lahirnya destinasi wisata baru yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat setempat. Aktivitas susur sungai diyakini mampu membuka peluang ekonomi, mulai dari jasa transportasi, kuliner lokal, hingga produk UMKM berbasis budaya sungai.

“Saya berharap kelotok susur sungai Pulau Hanibung ini dikelola dengan aman, berkelanjutan, dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi warga sekitar,” tuturnya.

Peluncuran kelotok ini juga dirangkai dengan berbagai kegiatan sosial, seperti sunatan massal dan layanan pengobatan gratis. Bagi Halikinnor, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan pariwisata, tetapi juga tentang kehadiran negara di tengah masyarakat.

“Pelayanan kesehatan yang inklusif adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah. Kita ingin memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat pembangunan,” katanya.

Langkah ini menegaskan arah pembangunan Kotawaringin Timur yang tak melulu bertumpu pada daratan dan beton. Sungai—yang pernah menjadi denyut utama kehidupan—kini kembali dihidupkan sebagai ruang harapan baru.

Dengan kelotok yang mulai menyusuri Pulau Hanibung, Kotim seolah mengirim pesan: pembangunan bisa berjalan seiring dengan sejarah, budaya, dan kearifan lokal, tanpa meninggalkan masyarakat di tepian sungai.