BORNEONEWS, Jakarta – Piala Dunia 2026 berpeluang menjadi salah satu edisi paling heboh dalam sejarah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Bukan hanya karena format baru dengan 48 peserta, tetapi juga karena kombinasi faktor olahraga, rivalitas legenda, hingga dinamika politik global.
Turnamen yang akan digelar mulai 11 Juni 2026 di tiga negara Amerika Utara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—berpotensi menjadi panggung terakhir bagi dua ikon sepak bola dunia, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Saat kompetisi dimulai, Messi akan berusia 39 tahun, sementara Ronaldo 42 tahun.
Bagi keduanya, Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi keenam sepanjang karier. Messi berpeluang mencatatkan sejarah baru sebagai pemain Argentina kedua setelah Daniel Passarella yang dua kali menjuarai Piala Dunia, sekaligus menjadi pesepak bola ke-21 yang mengangkat trofi lebih dari satu kali. Hingga kini, hanya Pele yang mampu menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali.
Messi juga telah mencatatkan 26 penampilan di Piala Dunia, terbanyak sepanjang sejarah. Ia hanya membutuhkan empat gol lagi untuk melampaui rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia dengan 16 gol.
Argentina sendiri membidik prestasi langka, yakni mempertahankan gelar juara dunia. Terakhir kali prestasi back to back juara Piala Dunia diraih Brasil pada 1958 dan 1962, lebih dari enam dekade lalu.
Di sisi lain, Cristiano Ronaldo masih memburu satu prestasi besar yang belum pernah ia raih: menjuarai Piala Dunia. Setelah lima kali gagal di edisi sebelumnya, Piala Dunia 2026 bisa menjadi kesempatan terakhirnya untuk menutup karier dengan status juara dunia.
Jika Portugal mampu menjadi kampiun, Ronaldo akan tercatat sebagai pemain tertua yang mengangkat trofi Piala Dunia. Jika gagal, ia berpotensi menyusul deretan megabintang seperti Eusebio dan Johan Cruyff, yang meski legendaris tak pernah mencicipi gelar juara dunia.
Namun, Piala Dunia 2026 bukan semata soal Messi dan Ronaldo. Turnamen ini juga menjadi panggung pembuktian generasi baru, seperti Lamine Yamal, Erling Haaland, dan sejumlah bintang muda lain yang diprediksi akan mendominasi sepak bola dunia dalam satu dekade ke depan.
Potensi Panas di Luar Lapangan
Di luar urusan teknis sepak bola, Piala Dunia 2026 juga menyimpan potensi ketegangan non-olahraga, terutama terkait dinamika politik global. Amerika Serikat, sebagai tuan rumah utama, tengah berada dalam situasi politik yang sensitif di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
Dalam beberapa waktu terakhir, Trump dikenal agresif dalam menyikapi berbagai isu internasional, baik terhadap sekutu maupun rival Amerika Serikat, termasuk Iran, Kanada, dan Denmark. Menariknya, dua dari tiga negara tersebut telah memastikan diri tampil di Piala Dunia 2026, yakni Iran dan Kanada.
Iran sudah dipastikan menjadi wakil Asia dan dijadwalkan bertanding di wilayah Amerika Serikat sejak fase grup. Kanada sendiri berstatus tuan rumah bersama AS dan Meksiko. Sementara Denmark masih harus menjalani playoff zona Eropa pada Maret mendatang.
Ketegangan politik ini memunculkan kekhawatiran bahwa atmosfer Piala Dunia 2026 bisa memanas, tidak hanya di tribun stadion, tetapi juga di luar lapangan. Apalagi, ajang ini digelar berdekatan dengan masa krusial politik AS menjelang Pemilu Sela November 2026, yang akan menentukan arah pemerintahan Trump ke depan.
Meski demikian, FIFA telah menegaskan komitmennya menjaga profesionalitas dan netralitas penyelenggaraan Piala Dunia 2026, agar turnamen tetap berjalan sesuai semangat olahraga.
Kekhawatiran Tak Ramah bagi Penonton
Isu lain yang mencuat adalah kekhawatiran soal keramahan tuan rumah, khususnya bagi penonton internasional. Kebijakan imigrasi ketat Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump menjadi sorotan, terutama setelah berbagai laporan kontroversial terkait tindakan aparat imigrasi.
Sebanyak 78 dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026 akan digelar di Amerika Serikat, termasuk seluruh laga perempat final, semifinal, dan final. Kondisi ini membuat faktor keamanan dan kenyamanan penonton internasional menjadi perhatian serius.
Sejumlah aktivis HAM di AS mengkhawatirkan kehadiran aparat penegak hukum imigrasi di sekitar venue Piala Dunia dapat menciptakan rasa tidak aman bagi pendatang. Kekhawatiran tersebut turut memengaruhi persepsi global terhadap Amerika Serikat sebagai tuan rumah turnamen olahraga dunia.
Situasi ini menjadi tantangan besar bagi FIFA dan pemerintah AS. Jika tidak dikelola dengan baik, dinamika politik dan kebijakan imigrasi berpotensi mengganggu citra Piala Dunia 2026, yang sejatinya ingin menghadirkan atmosfer baru: lebih inklusif, lebih global, dan merangkul lebih banyak kawasan.
Piala Dunia 2026 pun tak hanya akan menjadi ajang pembuktian di lapangan hijau, tetapi juga ujian besar bagi penyelenggara dalam menjaga sepak bola tetap menjadi pesta dunia yang aman, terbuka, dan menyatukan.
ANTARA









