SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang (MBK), Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih terkendala ketersediaan lahan. Hingga kini, gerai koperasi baru terealisasi di satu desa, yakni Desa Eka Bahurui.

"Ada beberapa desa yang belum mempunyai tanah untuk pembangunan gerai Koperasi Merah Putih," kata Camat Mentawa Baru Ketapang Irpansyah, Senin, 9 Februari 2026.

Irpansyah menjelaskan, seluruh desa di Kecamatan MBK mengalami pemangkasan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung program Koperasi Merah Putih. Pemotongan tersebut mencapai sekitar Rp800 juta per desa yang dialokasikan selama enam tahun sesuai kebijakan pemerintah pusat.

Namun, realisasi pembangunan gerai koperasi belum sejalan dengan pemangkasan anggaran tersebut. Saat ini, hanya Desa Eka Bahurui yang telah membangun gerai Koperasi Merah Putih, sementara desa-desa lain belum dapat merealisasikan karena keterbatasan lahan.

Pemangkasan ADD tersebut, lanjut Irpansyah, berdampak pada fleksibilitas pemerintah desa dalam membiayai pembangunan infrastruktur lainnya. Pasalnya, sisa ADD yang dapat dikelola desa hanya sekitar Rp300 juta, dan anggaran tersebut sudah diplot untuk tujuh fokus penggunaan Dana Desa (DD) Tahun 2025/2026, sebagaimana diatur dalam Permendesa PDT Nomor 16 Tahun 2025.

Oleh karena itu, Irpansyah berharap pembangunan gerai Koperasi Merah Putih di desa-desa lain dapat segera direalisasikan, sehingga pemotongan dana desa benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat.

Sebagai solusi, ia mengusulkan pemanfaatan aset milik Pemerintah Daerah Kotim untuk pembangunan gerai koperasi. Beberapa aset yang dinilai potensial antara lain pasar di Desa Pelangsian, pasar di Desa Bapanggang Raya, serta aset pemerintah daerah lainnya yang berada di wilayah kelurahan.

"Apabila Pemerintah Daerah mempunyai aset seperti pasar yang ada di Pelangsian atau pasar yang ada di desa Bapanggang atau lokasi di Kelurahan bisa diserahkan kepada Kelurahan dan Desa untuk membangun gerai koperasi merah putih," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)