BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Komisi III DPRD Palangka Raya, Sigit Widodo, mengungkapkan harapannya agar Desa Wisata Sei Gohong tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik bagi pengunjung, tetapi juga mampu menjadi contoh desa wisata yang menggabungkan tiga elemen penting yaitu pelestarian budaya lokal, konservasi satwa dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab.
"Pengembangan yang terarah ini diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga kelestarian potensi yang ada," katanya, Senin, 9 Februari 2026.
Dalam hal pelestarian budaya, Sigit menekankan bahwa kekayaan kearifan lokal suku Dayak di Sei Gohong menjadi aset utama yang harus terus dilestarikan.
Mulai dari rumah betang peninggalan pendiri pemukiman, cagar budaya Huma Hai, hingga tradisi penggunaan tanaman obat khas seperti bawang lemba dan bajakah, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas desa yang harus diperkenalkan kepada wisatawan.
Program penjualan produk hasil olahan masyarakat lokal juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan warga sekaligus menjaga kelangsungan budaya.
Untuk aspek konservasi satwa, kerja sama Desa Sei Gohong dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation menjadi landasan yang kuat.
Pulau konservasi orangutan di Sungai Rungan tidak hanya menjadi tempat rehabilitasi satwa yang terancam punah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung tentang pentingnya menjaga habitat alam.
"Pengelolaan yang ketat dan aturan yang jelas dalam mengamati orangutan juga menjadi bukti komitmen desa dalam melindungi satwa liar," tambahnya.
Pemanfaatan alam secara bertanggung jawab kata Sigit dapat diwujudkan melalui pengelolaan destinasi alam seperti Sei Batu, Danum Bah Andang, dan Sungai Telok Kaja.
Semua lokasi wisata alam tersebut dikelola dengan memperhatikan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan, seperti menjaga kebersihan lingkungan, membatasi jumlah pengunjung pada kapasitas tertentu, serta melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas wisata.
Sigit menjelaskan bahwa konsep pengembangan yang menyatu ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem wisata yang sehat dan berkelanjutan.
"Dengan demikian, keberadaan desa wisata tidak hanya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga dapat menjadi sumber mata pencaharian yang stabil bagi generasi mendatang," pungkasnya. (MARINI/y)









