PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di Desa Tangar, Kecamatan Mentaya Hulu, hamparan jagung mulai mengubah rutinitas para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani atau Poktan Pahari Sejahtera. Lahan yang sebelumnya tak seluruhnya produktif kini ditanami jagung, komoditas yang mereka pilih karena dinilai cepat panen dan punya banyak kegunaan, terutama sebagai bahan baku pakan ternak.

Ketua Poktan Pahari Sejahtera, Sugiarto Sumari, bercerita, keputusan menanam jagung berangkat dari kebutuhan sederhana: mencari tanaman yang bisa memberi hasil dalam waktu relatif singkat.

“Masa tanamnya sekitar 120 hari. Itu yang membuat kami tertarik, selain nilai jualnya juga masih cukup baik,” kata Sugiarto kepada Borneonews pada Senin, 9 Februari 2026.

Penanaman perdana dilakukan pada Juli 2025 dan dipanen pada September di tahun yang sama. Dari lahan awal seluas 2 hektare, hasil panen mencapai sekitar 3 ton per hektare. Capaian itu memberi semangat baru bagi para anggota kelompok tani, yang kini berjumlah sekitar 20 orang aktif, untuk memperluas garapan hingga 5 hektare.

Harga jagung pipilan yang berada di kisaran Rp7.000 per kilogram turut menjadi penyemangat.

"Bagi kami, angka itu cukup untuk menutup biaya produksi sekaligus menyisakan harapan akan tambahan penghasilan keluarga. Paling tidak, ada hasil yang bisa kami andalkan,” kata Sugiarto lagi.

Dalam prosesnya, para petani tidak berjalan sendiri. Mereka mendapat dukungan sarana produksi dari PT Karunia Kencana Permaisejati atau KKP seperti bibit, pupuk, hingga peralatan penyiraman dan pompa air, termasuk pembangunan embung sebagai penampung air. Menurut Sugiarto, fasilitas itu membuat pekerjaan di lapangan lebih ringan dan pengelolaan lahan menjadi lebih efisien.

CSR Manager Wilmar Central Kalimantan Project, Widiyanto, mengatakan pendampingan kepada petani menjadi bagian penting agar hasil tanam tidak sekadar tumbuh, tetapi juga memberi nilai ekonomi. Selain sarana produksi, pihaknya menyiapkan pendamping lapangan untuk membantu petani dalam proses budidaya.

Ia berharap hasil panen jagung nantinya bisa diolah oleh kelompok tani atau diserap pasar, termasuk melalui Bulog, dengan harga yang setidaknya mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Jagung juga didorong untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak, agar bisa memperkuat usaha peternakan di sekitar desa.

Bagi para petani di Tangar, cerita jagung bukan sekadar soal angka produksi. Di baliknya ada harapan tentang lahan yang kembali hidup, kerja bersama yang makin solid, dan peluang ekonomi desa yang perlahan bergerak. Dari ladang sederhana itulah, mereka mencoba menanam bukan hanya jagung, tetapi juga masa depan yang lebih pasti. (TESTI PRISCILLA/y)