BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Produksi minyak sawit di Malaysia merosot melebihi perkiraan pada November karena tanaman sawit masih stres terdampak cuaca buruk. Kondisi ini memicu ekspektasi harga akan mencatat penguatan tahunan tertinggi dalam enam tahun.

Produksi minyak sawit mentah (CPO) anjlok 6,1% menjadi 1,57 juta ton pada November dibandingkan bulan sebelumnya, demikian data dari Lembaga Minyak sawit Malaysia (MPOB) yang dirilis medio pekan ini.

Sementara survei Bloomberg pekan lalu menyebutkan adanya penurunan produksi sebesar 3%. Kemudian, stok meningkat 5,2% menjadi 1,66 juta ton, di bawah proyeksi sebesar 1,7 juta ton. Untuk ekspor turun 4,2% menjadi 1,37 juta ton, kinerja terendah sejak Juni.

Harga minyak sawit telah melonjak 26% tahun ini setelah fenomena El Nino mengganggu produksi dan menurunkan cadangan minyak sawit di sejumlah negara Asia Tenggara.

Dengan pemulihan produksi yang diperkirtakan lebih lama untuk perkebunan sawit Malaysia sebagai dampak dari kondisi cuaca, proyeksi harga masih akan meningkat diperkuat oleh harapan tingginya permintaan dari Indonesia untuk keperluan pembuatan biodiesel.

”Produksi lebih rendah dari perkiraan, karena banyak pohon sawit yang masih terdampak El Nino, atau cuaca tak mendukung lainnya," kata Ivy Ng, analis dari CIMB Investment Bank Bhd, seperti dilansir The Star, di Kuala Lumpur.

Dari kondisi tersebut, kata Ivy Ng, maka ada peluang harga minyak sawit masih akan menguat hingga kuartal pertama tahun depan.

Harga futures minyak sawit acuan di Malaysia pekan lalu menembus angka RM3.188 (US$717) per ton, level tertinggi sejak Mei 2012. Harga kemungkinan akan menyentuh level RM3.300 pada kuartal pertama 2017 dan mungkin melampaui level tersebut seiring dengan melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS, kata analis industri sawit Dorab Mistry pada kesempatan sebelumnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)