JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menargetkan biaya dana atau cost of fund tetap terjaga di level rendah sepanjang semester I 2026, dengan kisaran tidak melebihi 3,1–3,2 persen.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan proyeksi likuiditas pasar yang masih longgar hingga pertengahan tahun menjadi peluang bagi perseroan untuk menjaga struktur pendanaan yang efisien dan mendorong kinerja laba.

“Banyak ekonom melihat likuiditas pasar masih ample sampai Juni. Ini kesempatan bagi kami untuk menjaga cost of fund tidak lebih dari 3,1–3,2 persen, sehingga ruang peningkatan laba bisa lebih optimal,” ujar Nixon di Jakarta seperti dikutip pada Selasa, 10 Februari 2026.

Menurutnya, apabila BTN mampu mempertahankan cost of fund di kisaran 3 persen, kinerja profitabilitas berpotensi meningkat. Namun hal tersebut tetap bergantung pada kondisi likuiditas industri perbankan.

“Kalau pasar tetap likuid, kita bisa jaga cost of fund di 3–3,1 persen. Tapi kalau likuiditas mulai mengetat, biasanya akan terjadi perang suku bunga,” jelasnya.

BTN akan kembali mengevaluasi kondisi pasar pada semester II 2026, termasuk kemungkinan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dengan bunga lebih tinggi apabila likuiditas mulai terbatas.

“Kami sudah mengarahkan tim bahwa semester I ini likuiditas masih sangat memungkinkan. Untuk semester II, nanti kita lihat kembali situasinya,” tambah Nixon.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan BTN secara konsolidasi tumbuh 11,9 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp400,6 triliun sepanjang 2025. Pada semester I 2026, BTN membidik pertumbuhan kredit di kisaran 8–10 persen.

Nixon menyebutkan, strategi pertumbuhan kredit akan difokuskan pada enam bulan pertama 2026. Kredit Program Perumahan (KPP) tetap menjadi penopang utama, disusul segmen konsumer, serta tambahan kontribusi dari sektor korporasi dan komersial.

“Pertumbuhan kredit dan penyaluran bunga murah akan kami dorong di enam bulan pertama. Itu fokus strategi kami,” ujarnya.

Sebagai informasi, BTN berhasil menurunkan cost of fund dari 4,1 persen pada 2024 menjadi 3,9 persen pada 2025.

Wakil Direktur Utama BTN, Oni Febriarto Rahardjo, menambahkan bahwa secara bulanan, cost of fund pada Desember 2025 telah turun ke level 3,3 persen, bahkan sempat menyentuh 3,1 persen pada November 2025, meski masih terdapat instrumen berbunga tinggi yang belum jatuh tempo.

Di sisi pendanaan, perolehan DPK BTN secara konsolidasi tumbuh kuat sebesar 14,6 persen yoy menjadi Rp437,4 triliun pada 2025.

Pertumbuhan tersebut turut ditopang oleh akselerasi transaksi digital melalui superapp Bale by BTN. Hingga akhir 2025, jumlah pengguna Bale tercatat meningkat 66,1 persen yoy menjadi 3,7 juta pengguna.

Lonjakan jumlah pengguna berdampak pada peningkatan volume transaksi Bale by BTN yang naik 79,2 persen yoy menjadi 2,2 miliar transaksi per 31 Desember 2025. Nilai transaksi juga mencapai Rp103,6 triliun atau tumbuh 27,7 persen secara tahunan.

Saldo dana pengguna Bale by BTN pun terus bertambah, dengan kontribusi mencapai Rp22,8 triliun terhadap total DPK BTN hingga akhir 2025.

ANTARA