DI DALAM Auditorium Universitas Jember, Sabtu pagi, 7 Februari 2026, senyum tak henti-henti menghiasi wajah para wisudawan. Tepuk tangan, pelukan keluarga, dan kilau mata penuh harap menyatu dalam suasana bahagia wisuda periode VIII tahun akademik 2025/2026. Di antara ratusan toga hitam yang memenuhi ruangan, satu nama mencuat—bukan karena gemerlap berlebihan, melainkan karena cerita panjang tentang perjuangan.
Namanya Nadiya Ayu Sekar Kinari.
Lulusan Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember itu dinobatkan sebagai salah satu lulusan terbaik, dengan capaian IPK 3,64 dan masa studi 3 tahun 11 bulan 8 hari. Prestasi itu diraih bukan dari jalan yang lapang, melainkan dari lorong sempit bernama keterbatasan ekonomi.
Mahasiswi angkatan 2021 tersebut membuktikan bahwa kesibukan akademik yang padat tak menghalanginya untuk aktif berorganisasi. Di sela jadwal kuliah dan praktikum, Nadiya terlibat dalam Badan Eksekutif Mahasiswa FKG, UKM Lisma, Insisivus, hingga dipercaya menjadi pengurus nasional Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia periode 2022–2024.
Namun, di balik sederet prestasi itu, ada kisah keluarga yang menjadi sumber kekuatan terbesarnya.
Kedua orang tua Nadiya bekerja sebagai pegawai swasta. Sang ayah harus menempuh perjalanan puluhan kilometer dari rumah mereka di Bandung demi menafkahi keluarga. Sementara sang ibu kerap ditugaskan ke berbagai daerah—Papua, Kalimantan, Sulawesi, hingga Sumatera—membuat kebersamaan keluarga kerap terpotong jarak dan waktu. Akhir pekan menjadi satu-satunya ruang pertemuan yang kerap dinanti.
Kondisi ekonomi keluarga pun tidak mudah. Mereka tinggal di rumah kontrakan, dengan biaya sewa yang terus meningkat dari tahun ke tahun, di tengah tingginya biaya hidup Kota Bandung. Dengan empat anak yang masih menempuh pendidikan—dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar—beban keluarga terasa nyata.
Sebagai anak pertama, Nadiya memahami betul beratnya perjuangan orang tuanya.
“Sebagai anak pertama, saya tahu betul kesulitan mereka membiayai empat anaknya yang semuanya masih sekolah. Orang tua selalu melarang kami memikirkan jika itu menyangkut biaya sekolah atau kuliah,” tuturnya.
Orang tuanya selalu menegaskan satu hal: soal biaya, akan selalu dicari jalan keluarnya. Kalimat sederhana itu justru menjadi beban moral tersendiri bagi Nadiya. Ia mengaku sering dilanda dilema emosional, bahkan tak jarang meneteskan air mata ketika harus meminta biaya untuk kebutuhan kuliah.
Namun, sikap orang tua yang tak pernah memperlihatkan keluh kesah justru menumbuhkan rasa tanggung jawab besar dalam dirinya. Baginya, satu-satunya cara membalas pengorbanan itu adalah dengan memberikan hasil terbaik—belajar sungguh-sungguh, lulus tepat waktu, dan membawa pulang prestasi.
Kini, saat berdiri di panggung wisuda, perjuangan itu terasa menemukan maknanya.
Nadiya berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat bagi mahasiswa lain yang tengah berjuang di tengah keterbatasan. Ia berpesan agar tidak mudah patah semangat dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mewujudkan mimpi orang tua yang bekerja keras demi pendidikan anak-anaknya.
Kisah Nadiya hanyalah satu dari banyak cerita serupa di Universitas Jember. Wakil Ketua Tim Kerja Humas Unej, Iim Fahmi Ilman, menyebut jumlah mahasiswa dari keluarga kurang mampu di kampus tersebut cukup besar. Setiap tahun, Unej menyalurkan beasiswa Kartu Indonesia Pintar–Kuliah (KIP-K) kepada sekitar 1.200 hingga 1.700 mahasiswa.
Pada penerimaan mahasiswa baru 2025 jalur SNBT, tercatat 1.554 mahasiswa baru menerima KIP-K. Tak sedikit dari mereka yang justru mencetak prestasi akademik maupun non-akademik yang membanggakan.
Pihak kampus memandang capaian para mahasiswa tersebut sebagai bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berprestasi. Bahkan, kisah-kisah semacam itu diharapkan mampu memotivasi mahasiswa lain yang berada dalam kondisi serupa.
Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna, kerap mengingatkan bahwa wisuda bukanlah akhir perjalanan. Gelar akademik, menurutnya, adalah amanah—tanggung jawab intelektual dan sosial untuk memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Bagi Nadiya, amanah itu kini mulai ia genggam. Dari rumah kontrakan sederhana di Bandung hingga panggung wisuda di Jember, ia telah membuktikan satu hal: mimpi besar tak pernah mengenal batas ekonomi, selama tekad dan doa orang tua menyertainya.









