BORNEONEWS, Palangka Raya – Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, mendorong generasi muda di Kalimantan Tengah (Kalteng) agar memaksimalkan pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi kreatif daerah.
Ajakan tersebut disampaikan Yovie saat memberikan kuliah umum bertema “Ekonomi Kreatif sebagai Pilar Pemberdayaan Generasi Muda” di Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya, Selasa, 10 Februari 2026, yang diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa dan pelajar.
“Gunakan teknologi, manfaatkan AI sebagai mesin atau mitra, dan lakukan semuanya secara terukur,” ujar Yovie di hadapan peserta.
Ia menegaskan generasi muda tidak perlu takut menghadapi perkembangan zaman. Justru, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan secara bijak untuk mendorong inovasi dan daya saing ekonomi kreatif, khususnya di daerah.
Menurut Yovie, derasnya arus informasi digital menuntut anak muda memiliki ketahanan diri, sikap kritis, serta kemampuan memverifikasi kebenaran informasi agar teknologi memberikan dampak positif bagi pengembangan diri maupun sektor ekonomi kreatif.
Dalam kesempatan tersebut, Yovie juga berbagi pengalaman perjalanan kariernya di industri kreatif, termasuk menghadapi berbagai kegagalan. Ia menyebut kegagalan sebagai proses pembelajaran penting dalam membentuk karakter dan strategi hidup.
“Setiap strategi pasti pernah gagal. Kegagalan itu harus dipelajari dengan sungguh-sungguh. Tidak ada ruang untuk arogansi, karena semua yang kita miliki adalah titipan Tuhan,” tuturnya.
Ia menambahkan, kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa integritas. Oleh karena itu, generasi muda perlu membangun jati diri, sikap, dan nilai moral agar mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Yovie menilai potensi ekonomi kreatif di kalangan anak muda sangat besar, mulai dari sektor seni, musik, gim, hingga seni pertunjukan. Ia mencontohkan industri musik yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat.
“Ketika Kahitna tampil di Palangka Raya, saya tetap memperoleh royalti. Itulah contoh nyata bagaimana ekonomi kreatif bekerja,” ujarnya.
Terkait perkembangan AI, Yovie mengungkapkan sejumlah lagunya pernah di-cover menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Namun, menurutnya, karya AI tetap tidak mampu sepenuhnya menggantikan nilai emosional dan kejujuran karya manusia.
“AI bisa meniru, tapi selalu ada yang kurang. Karena itu, gunakan AI sebagai alat dan mitra, bukan sebagai pengganti manusia,” tegasnya.
Ia berharap Kalimantan Tengah dapat menyediakan lebih banyak ruang dan ekosistem yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif, sehingga inovasi generasi muda dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Anak muda punya ide dan terobosan. Tinggal bagaimana kita menyiapkan ruang dan ekosistem agar potensi itu bisa berkembang,” pungkas Yovie.









