SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sejumlah kebutuhan pokok di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami kenaikan harga menjelang masuknya bulan Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi. Pedagang menduga lonjakan harga ini disebabkan oleh terhambatnya distribusi akibat gelombang tinggi di jalur laut.

“Harga bawang merah naik dari sebelumnya Rp30 ribu per kilogram menjadi Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram," kata salah satu pedagang di Pasar PPM Sampit Nana, Rabu, 11 Februari 2026.

Situasi ini terlihat jelas di Pasar Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, termasuk bawang merah, bawang putih, dan telur ayam.

Bawang putih yang sebelumnya dijual Rp35 ribu hingga Rp38 ribu per kilogram, kini naik menjadi Rp40 ribu per kilogram. 

Kenaikan harga juga terlihat pada telur ayam ras. Mansur salah seorang pedagang telur di pasar yang sama, telur tersebut saat ini dijual antara Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per sap, tergantung ukuran. Jauh meningkat dari harga sebelumnya yang hanya Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per sap.

“Kami juga tidak bisa memprediksi naik atau turun, termasuk saat Ramadan atau menjelang Lebaran. Kalau permintaan tinggi, bisa saja naik," imbuhnya. 

Nana menduga peningkatan harga tersebut karena hambatan distribusi akibat gelombang tinggi, sehingga stok di Sampit sering kosong. 

“Biasanya dua hari sudah habis, kalau pengiriman lambat barang jadi kosong,” tambahnya.

Sebagian besar komoditas bahan pangan di Sampit dipasok melalui jalur laut dari Pulau Jawa. Ketika cuaca buruk melanda perairan Laut Jawa, pengiriman menjadi tersendat sehingga stok di pasaran berkurang.

Cuaca buruk juga membuat sebagian bahan pokok dialihkan pengirimannya melalui Banjarmasin sebelum dilanjutkan melalui jalur darat ke Sampit. 

Pengalihan ini mengakibatkan jalur distribusi menjadi lebih panjang dengan biaya angkut tambahan dan risiko kerusakan barang yang lebih tinggi. 

“Kalau gelombang tinggi, biasanya barang dari Jawa dikirim dulu ke Banjarmasin, setelah itu baru ke Sampit lewat darat. Harganya jadi lebih tinggi, dan sayur-sayuran banyak yang rusak di jalan," ungkapnya. 

Para pedagang berharap pemerintah dapat mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga, terutama menjelang Ramadan yang biasanya diikuti dengan peningkatan kebutuhan masyarakat, agar masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya dengan lebih mudah dan ekonomi lokal tetap stabil. (DEVIANA/H)