BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah kasus kekerasan, baik berupa kekerasan fisik maupun kekerasan seksual yang menimpa anak dan remaja di Kabupaten Kotawaringin Timur, semakin menghawatirkan karena terus meningkat setiap tahun.
“Sejak dibentuknya P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) pada 2013 lalu. Kasus kekerasan terhadap anak jumlahnya terus mengalami peningkatan,” kata Ketua P2TP2A Kotawaringin Timur Forisni Aprilista, Kamis (15/12/2016).
Dari data P2TP2A Kabupaten Kotawaringin Timur, pada 2014 terdapat 18 kasus yang rata-rata kekerasan seksual terhadap anak. Kemudian pada 2015 tercatat sebanyak 25 kasus. Kasus ini terus meningkat, bahkan sejak Januari hingga pertengahan Desember 2016, tercatat telah ada 32 kasus yang terima P2TP2A. Umumnya adalah kasus kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.
“Sebenarnya dari dulu sudah banyak kasus, namua karena P2TP2A baru dibentuk dan banyak yang belum tau, makanya sedikit yang meminta perlindungan ke kami. Sekaran P2TP2A sudah mulai dikenal masyarakat, makanya banyak laporan yang masuk ke kami untuk dimintai pendampingan,” ujar Forisni.
Pada Jumat, (16/12/2016), Badan Pemberdaya Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Kabupaten Kotawaringin Timur menggelar sosialisasi mencegah kekerasan terhadap yang dilaksanakan di TK Diniyatul Hidayah Sampit dengan melibatkan orangtua murid dan pihak sekolah.
Kepala BPPKB Kotawaringin Timur Rusmiati mengatakan, perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab mereka untuk mengurangi terjadinya kasus kekerasan terhadap anak.
“Kegiatan ini bertujuan menghindari terjadinya kekerasan terhadap anak khsusunya anak usia dini. Sebab belakangan, fenomena kekerasan terhadap anak telah merambah ke anak-anak usia dini,” kata Rusmiati.
Rusmiati menambahkan, sosialisasi yang menyasar para orangtua itu untuk memberikan pemahaman tentang pola asuh terhadap anak bagi guru dan orang tua di Taman Kanak-kanak Diniatul Hidayah.
Ia berharap, dengan adanya sosialisasi tersebut, fenomena kasus kekerasan terhadap anak dapat diminimalisir. Dengan begitu anak-anak yang merupakan para penerus bangsa ini dapat menjadi anak yang berkualitas nantinya. (RAFIUDIN/m)








