BORNEONEWS, Sampit - Keberadaan gelandangan, anak jalanan (anjal) dan pengemis tak bisa dielakan, meski latar belakang mereka melakukannya berberbagai macam, ada yang memang miskin dan ada pula karena sulit cari pekerjaan lalu jadi jalan pintas.
“Meski kami tertibkan setiap saat, pasti aka nada lagi. Baik pengemis baru maupun yang wajah lama,” kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kotawaringin Timur Bima Ekawardana, Jumat (16/12/2016).
Bima menuturkan, pihaknya berkali-kali melakukan penertiban serta sosialisasi terhadap gepeng dan anak punk. Namun, hal tersebut tidak memberikan efek jera. Gepeng dan anak punk masih sering ditemukan berkeliaran di keramaian, seperti taman kota dan pusat perbelanjaan. Meski begitu dari hari ke hari bukan malah berkurang jumlahnya, tapi malah bertambah.
Apalagi jelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2017 diyakini akan banyak gepeng yang menyerbu Sampit. Bukan hanya gepeng, tetapi juga anak punk yang kerap berkeliaran untuk mengamen di taman kota serta pusat-pusat perbelanjaan di Sampit.
Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah daerah melalui Dinsosnakertrans agar Kota Sampit bebas gepeng. Seperti halnya memberikan sanksi sosial dengan memajang foto mereka di baliho besar di sejumlah tempat strategis seperti Taman Kota Sampit yang dilakukan beberapa waktu lalu.
”Ini merupakan bentuk sanksi sosial yang kami berikan pada para gepeng dan anak punk yang sudah berkali-kali kami tertibkan. Tujuannya agar mereka merasa malu dan tidak akan melakukan aktivitas mereka seperti mengemis dan mengamen,” ujra Bima.
Melalui sanksi sosial itu, diharapkan bisa memberikan efek jera bagi mereka dan sebagai peringatan bagi yang lainnya.
”Selain itu, harapan kami barangkali ada kerabat atau keluarga yang melihat spanduk itu, sehingga mereka bisa memberikan teguran atau arahan kepada keluarganya yang selama ini menjadi gepeng atau anak punk,” katanya. (RAFIUDIN/m)








