PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - President Director & Chief Executive Officer (CEO) PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) Jap Hartono menjadi pembicara dalam talk show bersama ratusan siswa pada kegiatan CEO & Board Visit Abdul Rasyid Foundation di SMK Sumbermas Sarana Kenambui Estate, Kamis, 12 Februari 2026.

Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB mengusung tema “Learn Today Lead Tomorrow, Sky is The Limit: Dari Bangku Sekolah ke Peran Pemimpin Masa Depan”, diikuti ratusan perwakilan siswa dari 23 sekolah di bawah naungan Abdul Rasyid Foundation (ARF).

Dalam sesi dialog, sejumlah siswa mendapat kesempatan bertanya langsung, di antaranya Azza kelas 5 SDS Sumbermas Sarana Kenambui, Ferdianto Benu kelas 9 SMP Sumbermas Sarana, serta Nasya kelas 2 SMK Sumbermas Sarana.

Jap Hartono mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mendorong para siswa mempersiapkan masa depan sejak dini.

“Hari ini kita sebenarnya kumpul-kumpul sama murid-murid 23 sekolahnya under Abdul Rasyid Foundation. Agendanya sama, kita mau meng-encourage semua murid AR Foundation untuk sekolah dan pikirkan masa depannya,” jelas Jap Hartono.

Jap Hartono menegaskan, pendidikan tidak hanya berhenti di jenjang SMK, namun para siswa didorong untuk melanjutkan ke perguruan tinggi melalui berbagai jurusan, termasuk memanfaatkan beasiswa dari ARF maupun lembaga lainnya.

“Sekolah itu tidak terbatas SMK, mereka terbuka untuk berkuliah di semua lembaga pendidikan formal, baik dibawah beasiswa dari ARF atau beasiswa dari yang lainnya," jelas Jap Hartono.

Menurut Jap Hartono, para siswa harus belajar lebih giat agar bisa meraih kehidupan yang lebih baik dibanding orang tua mereka saat ini.

“Poinnya mereka sebagai murid harus belajar lebih hebat lagi, supaya yang kita harapkan mereka bisa lebih hebat dan lebih makmur daripada orang tuanya yang mungkin sekarang kerja sebagai pemanen, mandor, dan pemupuk,” jelas Jap Hartono.

Dalam arahannya, Jap Hartono juga menekankan pentingnya karakter dalam dunia kerja.

“Paling utama adalah  karakter, maksudnya  yang bersangkutan harus jujur dan berintegritas. Kedua, people skill, bisa interaksi sama atasan, bawahan, dan orang-orang di samping,” tegasnya.

Jap Hartono turut mengingatkan siswa agar menjauhi perilaku korupsi sejak dini.

“Korupsi itu biasanya terjadi kalau pendapatan kecil tapi lifestyle melebihi pendapatan. Itu yang kecil paling parah dan mengakibatkan orang cenderung korupsi,” ucapnya.

Selain karakter dan integritas, ia juga mendorong siswa untuk memperkuat teamwork, disiplin mengikuti aturan guru, serta membangun mental yang kuat.

“Dalam dunia kerja tidak ada alasan untuk menjadi introvert. Latih skill berbicara dan bersosialisasi. Kalau punya skill tapi hanya diam di pojokan, orang tidak kenal kamu dan skill kamu,” pesannya.

Jap Hartono juga memberikan arahan khusus kepada para guru agar memperkuat pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) sejak jenjang SD.

“Saat anak usia SD, perkuat STEM untuk membangun logika. Nanti saat SMP dan SMA silakan perkuat lainnya. Negara maju melakukan hal tersebut untuk memperkuat logika individu,” katanya.

Menariknya, dalam kunjungan keduanya ini, ia menilai terjadi peningkatan signifikan dibanding kunjungan sebelumnya.

“Bila dibandingkan dengan kunjungan pertama, kali ini jauh lebih baik. Teman-teman sekolah bisa tampilkan banyak karya dan capability mereka dalam bahasa Inggris. They can speak English very well,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menilai penguasaan bahasa Inggris saja belum cukup untuk menghadapi tantangan 20 tahun ke depan.

“Mungkin kalau Inggris itu sudah agak ketinggalan zaman. Bahasa yang akan ada value-nya itu Mandarin. Moga-moga mereka bisa belajar tambahan lagi,” jelas Jap Hartono.

Jap Hartono juga melihat perubahan pola pikir siswa terkait cita-cita masa depan.

“Dua-tiga tahun lalu mereka bilang mau jadi pengusaha, mau jadi seperti Pak Owner Citra Borneo  Indah (CBI) Group H. Abdul Rasyid AS. Sekarang lebih terarah, mau jadi pengacara, mau jadi dokter dab mereka tahu setelah jadi dokter atau pengacara tetap bisa jadi pengusaha,” jelas Jap Hartono.

Dalam sesi tanya jawab, lanjut Jap Hartono siswa juga menanyakan peran seorang CEO. Ia menjelaskan bahwa tugas CEO tidak hanya memimpin perusahaan, tetapi juga membangun relasi dan mengerjakan berbagai aspek secara menyeluruh.

“Kerja CEO bukan hanya manage perusahaan saja, tapi semua juga harus dikerjakan, membangun relasi dengan partner bisnis. Istilahnya pekerjaannya all rounder,” pungkasnya. (WAHYU KRIDA/H)