BORNEONEWS, Jakarta - Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid menyampaikan program skrining dengan sasaran siswa Sekolah Dasar merupakan upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan cakupan deteksi dini penyakit jantung bawaan (PJB).
“Kegiatan deteksi dini PJB pada anak sekolah merupakan salah satu upaya edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memperkuat deteksi dini agar anak-anak dengan PJB dapat memperoleh penanganan yang tepat sedini mungkin,” kata Nadia saat meninjau skrining PJB di SDN 03 Makasar, Jakarta Timur, Kamis 12 Februari 2026.
Nadia mengatakan penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir, dengan angka prevalensi kira-kira 9-10 per 1000 kelahiran hidup.
Penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan.
Sementara itu program skrining PJB sudah dimasukkan dalam salah satu daftar skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak tahun 2025.
Nadia mendukung program yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) diprakarsai oleh Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan bekerja sama dengan GE Healthcare dengan upaya mengumpulkan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai kondisi PJB di Indonesia.
“Kolaborasi antara organisasi profesi, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan anak Indonesia,” katanya.
Skrining PJB pada anak siswa Sekolah Dasar dilakukan PERKI dan GE Healthcare secara serentak mulai 23 Januari – 14 Februari 2026 di di 27 kota di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Jayapura.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K)., FIHA, mengatakan PERKI tidak hanya berupaya menemukan kasus PJB lebih dini, tetapi juga mengumpulkan data awal yang sangat penting sebagai fondasi menuju registri Penyakit Jantung Bawaan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Melalui skrining PJB gratis yang dilakukan secara berseri di 27 kota, PERKI memimpin upaya skrining PJB anak usia di bawah 18 tahun terbanyak di Indonesia. Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat menyaring anak dengan PJB lebih dini sehingga tatalaksana dapat dilakukan lebih cepat dan memberikan dampak signifikan bagi kualitas hidup anak dengan PJB,” kata Vivi.
Dalam pelaksanaan program ini, GE HealthCare (GEHC) Indonesia turut mendukung melalui inisiatif sistem ultrasonografi yang digunakan selama kegiatan skrining untuk mendukung deteksi dini kelainan jantung pada anak.
Alat ini menghadirkan pencitraan berkualitas tinggi guna penilaian jantung pediatrik yang lebih akurat, serta memperluas akses terhadap alat diagnostik esensial di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
ANTARA









